Tak semua ketukan di pintu pantas dijawab. Kadang, suara dari luar terdengar ramah, lembut, penuh harap. Tapi siapa pun tahu, menyambut tamu dalam kondisi rumah yang berantakan bukan sekadar tidak sopan—itu melukai harga diri sendiri. Ada waktu di mana seseorang harus berpura-pura tak mendengar, hanya agar ia bisa membereskan reruntuhan di dalam dirinya sendiri. Rumah, sebagaimana hati, menyimpan begitu banyak cerita yang tak sempat dibereskan. Tumpukan kecewa di sudut ruangan, debu luka di lantai kenangan, dan jendela-jendela yang sudah lama tak dibersihkan dari bayangan masa lalu. Ketika seseorang tiba dan mengetuk, membawa kekaguman seperti bunga di tangan, seringkali itu terjadi di waktu yang salah. Mengundang seseorang masuk ketika belum siap hanya akan membuat keduanya tersesat. Si tamu mungkin berharap menemukan kenyamanan, tetapi yang ia temui adalah kekacauan. Dan si tuan rumah? Ia hanya merasa semakin malu karena telah memperlihatkan sisi dirinya yang belum sempat ia rawat. L...
Tulisan pertama hapus, tulisan kedua tak seindah yang dihapus.