Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Rumah yang Belum Siap Diketuk

Tak semua ketukan di pintu pantas dijawab. Kadang, suara dari luar terdengar ramah, lembut, penuh harap. Tapi siapa pun tahu, menyambut tamu dalam kondisi rumah yang berantakan bukan sekadar tidak sopan—itu melukai harga diri sendiri. Ada waktu di mana seseorang harus berpura-pura tak mendengar, hanya agar ia bisa membereskan reruntuhan di dalam dirinya sendiri. Rumah, sebagaimana hati, menyimpan begitu banyak cerita yang tak sempat dibereskan. Tumpukan kecewa di sudut ruangan, debu luka di lantai kenangan, dan jendela-jendela yang sudah lama tak dibersihkan dari bayangan masa lalu. Ketika seseorang tiba dan mengetuk, membawa kekaguman seperti bunga di tangan, seringkali itu terjadi di waktu yang salah. Mengundang seseorang masuk ketika belum siap hanya akan membuat keduanya tersesat. Si tamu mungkin berharap menemukan kenyamanan, tetapi yang ia temui adalah kekacauan. Dan si tuan rumah? Ia hanya merasa semakin malu karena telah memperlihatkan sisi dirinya yang belum sempat ia rawat. L...

Mengapa Tidak Bersama Menyapu Debu?

Untukmu, Tamu yang Berdiri di Ambang Pintu, Aku tahu kau telah lama mengetuk. Langkahmu tak pernah benar-benar menjauh, walau pintu ini tak kunjung terbuka. Kau orang asing yang menunggu dengan sabar, mengira mungkin esok pagi rumah ini akan lebih pantas untuk menerimamu. Kau bilang, "Bersihkan dulu kekacauan di dalam. Rapikan semuanya. Barulah aku akan masuk." Tapi, tidakkah kau lihat—tanganku gemetar memegang sapu, punggungku letih menahan beban kenangan yang berserakan di lantai? Dinding-dinding ini memantulkan suara ragu dan jendela-jendela memantulkan bayangan luka yang belum sempat dilap. Rumah ini, hatiku, berantakan… tapi tidak berarti aku ingin membersihkannya sendirian. Tamu yang baik, Apakah tak terpikir olehmu, bahwa sedikit bantuanmu bisa jadi awal dari kerapihan itu? Bahwa mungkin yang kubutuhkan bukan waktu, tapi sikap yang tak hanya menunggu, tapi ikut membantu? Mengapa kau memilih berdiri di luar, berharap keajaiban terjadi dari dalam? Bukankah kasih sejati j...

Perpisahan yang Terlambat Ditangisi

Perpisahan angkatan adalah musim yang selalu datang, hadir setia setiap tahun bersama lagu-lagu lama yang entah sudah diputar untuk angkatan ke berapa. Semuanya terasa serupa—tangis, tabligh muwadaah, lilin, dan bucket bunga warna-warni. Tapi tahun ini berbeda. Lagu-lagu itu tak lagi terdengar klise, malah menyesakkan dada. Bukan karena nadanya, tapi karena kenangan yang diam-diam melekat dalam diam dan tumbuh tanpa disuruh. Empat tahun lalu, aku pergi meninggalkan tanah perjuangan ini untuk mengejar mimpi yang lebih tinggi di Timur. Aku pikir jarak membuatku asing dari segalanya. Tapi siapa sangka, lewat layar yang redup dan suara yang kadang terputus, aku mulai mengenal mereka—angkatan yang malam ini, besok, atau lusa berdiri di panggung perpisahan itu. Mereka bukan sekadar adik kelas; mereka adalah benih-benih harapan yang kutanam dalam lomba, diskusi malam, dan strategi ujian masuk perguruan tinggi. Tak pernah terbayang, perkenalan virtual itu akan berakhir dengan rasa kehilangan n...