Langsung ke konten utama

Rumah yang Belum Siap Diketuk

Tak semua ketukan di pintu pantas dijawab. Kadang, suara dari luar terdengar ramah, lembut, penuh harap. Tapi siapa pun tahu, menyambut tamu dalam kondisi rumah yang berantakan bukan sekadar tidak sopan—itu melukai harga diri sendiri. Ada waktu di mana seseorang harus berpura-pura tak mendengar, hanya agar ia bisa membereskan reruntuhan di dalam dirinya sendiri.


Rumah, sebagaimana hati, menyimpan begitu banyak cerita yang tak sempat dibereskan. Tumpukan kecewa di sudut ruangan, debu luka di lantai kenangan, dan jendela-jendela yang sudah lama tak dibersihkan dari bayangan masa lalu. Ketika seseorang tiba dan mengetuk, membawa kekaguman seperti bunga di tangan, seringkali itu terjadi di waktu yang salah.


Mengundang seseorang masuk ketika belum siap hanya akan membuat keduanya tersesat. Si tamu mungkin berharap menemukan kenyamanan, tetapi yang ia temui adalah kekacauan. Dan si tuan rumah? Ia hanya merasa semakin malu karena telah memperlihatkan sisi dirinya yang belum sempat ia rawat.


Lebih bijak untuk tidak membuka pintu saat hati belum tenang. Bukan karena tidak ingin menerima, tapi karena ingin menerima dengan utuh. Karena tamu yang tulus pantas disambut dalam ketenangan, bukan dalam kepanikan. Dalam cinta yang damai, bukan dalam luka yang masih basah.


Akan ada saatnya rumah itu kembali rapi. Saat sapu tangan sudah selesai menghapus air mata di lantai, dan lemari-lemari telah dikunci rapi menyimpan cerita yang tak perlu dibagi. Saat itu, pintu bisa dibuka perlahan, dan cahaya dari luar bisa masuk tanpa rasa takut.


Namun sebelum hari itu tiba, tidak ada salahnya menjaga gembok tetap terkunci. Tidak untuk menolak, tapi untuk menghargai proses. Karena kadang yang terlihat dari luar hanya halaman yang rapi, sementara isi dalamnya masih penuh puing-puing yang belum selesai disusun kembali.


Kekaguman memang indah, tapi tidak selalu harus dijawab. Karena cinta yang memaksa masuk saat hati belum siap, akan kehilangan arah begitu melihat kenyataan. Lebih baik menunggu hingga rumah bisa menjadi tempat berteduh yang layak, bukan sekadar bangunan ringkih yang mudah roboh oleh hembusan angin kecil.


Jadi biarkan rumah ini sunyi untuk sementara. Biarkan ketukan itu berlalu seperti angin sore yang datang dan pergi. Jika memang tamu itu berniat tinggal, ia akan kembali saat rumah ini sudah bersih, tenang, dan siap untuk dibuka. Bukan karena terpaksa, tapi karena akhirnya pantas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Frugal Living Ala Gen Z: Hidup untuk Hidup Siapa?

Setiap pagi, Damar memulai harinya dengan selembar roti tawar dan secangkir kopi sachet yang sudah kadaluarsa seminggu lalu. Ia tertawa kecil melihat tanggalnya, lalu berbisik pelan. “Masih bisa diminum,” katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hidup hemat, katanya. Hidup frugal. Bukan pelit, tapi sadar prioritas. Dan prioritas Damar adalah masa depan, rumah mungil yang nyaman, dan hidup sederhana bersama orang yang ia cintai. Di kantor, Damar menolak ajakan makan siang di luar. Ia membuka bekal nasi dan telur dadar yang sudah disiapkan sejak malam. Teman-temannya menyindir, “Kapan kamu berhenti nabung dan mulai hidup?” Tapi Damar hanya tersenyum. Mereka tak tahu, setiap rupiah yang ia hemat adalah batu bata untuk membangun mimpi hidup bersama Rengganis — seseorang yang katanya ingin menua bersamanya. Namun, ketika ia pulang, Rengganis masih di tempat yang sama. Duduk bersandar di sofa, menonton serial yang sama sejak pagi. “Belum dapat panggilan kerja,” katanya singkat, seperti k...

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Perpisahan yang Terlambat Ditangisi

Perpisahan angkatan adalah musim yang selalu datang, hadir setia setiap tahun bersama lagu-lagu lama yang entah sudah diputar untuk angkatan ke berapa. Semuanya terasa serupa—tangis, tabligh muwadaah, lilin, dan bucket bunga warna-warni. Tapi tahun ini berbeda. Lagu-lagu itu tak lagi terdengar klise, malah menyesakkan dada. Bukan karena nadanya, tapi karena kenangan yang diam-diam melekat dalam diam dan tumbuh tanpa disuruh. Empat tahun lalu, aku pergi meninggalkan tanah perjuangan ini untuk mengejar mimpi yang lebih tinggi di Timur. Aku pikir jarak membuatku asing dari segalanya. Tapi siapa sangka, lewat layar yang redup dan suara yang kadang terputus, aku mulai mengenal mereka—angkatan yang malam ini, besok, atau lusa berdiri di panggung perpisahan itu. Mereka bukan sekadar adik kelas; mereka adalah benih-benih harapan yang kutanam dalam lomba, diskusi malam, dan strategi ujian masuk perguruan tinggi. Tak pernah terbayang, perkenalan virtual itu akan berakhir dengan rasa kehilangan n...