Langsung ke konten utama

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai,

Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya.

Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita.

Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih.

Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pada dinding yang terlalu sopan untuk pergi, tapi terlalu lelah untuk tinggal.

Aku ingin bilang, aku kecewa. Aku ingin bertanya, kenapa semua ini terjadi? Alurnya persis sama dengan setiap orang yang datang dihidupmu lalu tak lama pergi, seperti yang kamu ceritakan dulu padaku. Tapi setiap kali aku hampir melakukannya, suara dalam diriku mengingatkan: kamu bukan lagi prioritasnya. Jadi aku diam. Bukan karena tak peduli, tapi karena sadar... aku mungkin hanya memperpanjang nyawa yang sudah lama tidak dipelihara.

Lucunya, setelah sepimu, banyak yang datang. Banyak yang menawarkan tawa dan perasaan baru. Tapi tak ada satu pun yang mampu menggugahku. Rasanya hambar. Rasanya... bukan kamu. Aku lelah membandingkan, tapi ternyata luka darimu belum sembuh, bahkan saat kamu sendiri belum benar-benar mendeklarasikan pergi.

Dan kalau kamu membaca ini—walau kecil kemungkinan—aku cuma ingin kamu tahu: aku masih di sini, tapi tak lagi berharap. Aku masih menyayangimu, tapi tak ingin memaksa. Karena pada akhirnya, cinta yang dipertahankan sendiri hanya akan menjadi luka yang tak punya ujung.

Selamat melanjutkan hidupmu.

Yang pernah sangat antusias kepadamu, secara ugal-ugalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Frugal Living Ala Gen Z: Hidup untuk Hidup Siapa?

Setiap pagi, Damar memulai harinya dengan selembar roti tawar dan secangkir kopi sachet yang sudah kadaluarsa seminggu lalu. Ia tertawa kecil melihat tanggalnya, lalu berbisik pelan. “Masih bisa diminum,” katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hidup hemat, katanya. Hidup frugal. Bukan pelit, tapi sadar prioritas. Dan prioritas Damar adalah masa depan, rumah mungil yang nyaman, dan hidup sederhana bersama orang yang ia cintai. Di kantor, Damar menolak ajakan makan siang di luar. Ia membuka bekal nasi dan telur dadar yang sudah disiapkan sejak malam. Teman-temannya menyindir, “Kapan kamu berhenti nabung dan mulai hidup?” Tapi Damar hanya tersenyum. Mereka tak tahu, setiap rupiah yang ia hemat adalah batu bata untuk membangun mimpi hidup bersama Rengganis — seseorang yang katanya ingin menua bersamanya. Namun, ketika ia pulang, Rengganis masih di tempat yang sama. Duduk bersandar di sofa, menonton serial yang sama sejak pagi. “Belum dapat panggilan kerja,” katanya singkat, seperti k...

Menjadi Teman yang Tak Pernah Kita Temui

Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan. Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta. Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebai...