Hai,
Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya.
Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita.
Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih.
Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pada dinding yang terlalu sopan untuk pergi, tapi terlalu lelah untuk tinggal.
Aku ingin bilang, aku kecewa. Aku ingin bertanya, kenapa semua ini terjadi? Alurnya persis sama dengan setiap orang yang datang dihidupmu lalu tak lama pergi, seperti yang kamu ceritakan dulu padaku. Tapi setiap kali aku hampir melakukannya, suara dalam diriku mengingatkan: kamu bukan lagi prioritasnya. Jadi aku diam. Bukan karena tak peduli, tapi karena sadar... aku mungkin hanya memperpanjang nyawa yang sudah lama tidak dipelihara.
Lucunya, setelah sepimu, banyak yang datang. Banyak yang menawarkan tawa dan perasaan baru. Tapi tak ada satu pun yang mampu menggugahku. Rasanya hambar. Rasanya... bukan kamu. Aku lelah membandingkan, tapi ternyata luka darimu belum sembuh, bahkan saat kamu sendiri belum benar-benar mendeklarasikan pergi.
Dan kalau kamu membaca ini—walau kecil kemungkinan—aku cuma ingin kamu tahu: aku masih di sini, tapi tak lagi berharap. Aku masih menyayangimu, tapi tak ingin memaksa. Karena pada akhirnya, cinta yang dipertahankan sendiri hanya akan menjadi luka yang tak punya ujung.
Selamat melanjutkan hidupmu.
Yang pernah sangat antusias kepadamu, secara ugal-ugalan.
Komentar
Posting Komentar