Langsung ke konten utama

Searah dalam Waktu yang Tak Pernah Sama

Dalam hidup ini, kita tidak bisa memilih datang lebih dulu atau belakangan. Kita hadir dengan tahun yang berbeda, cara tumbuh yang tak serupa, dan luka-luka yang tak bisa dibandingkan. Tapi dari sekian banyak perbedaan, kita bertemu—di waktu yang mungkin tak ideal, tapi hati kita berusaha menyesuaikan irama.

Bukan soal angka yang memisahkan kita. Karena cinta tak pernah mengenal batas usia. Ia hanya tahu bagaimana cara hati saling merangkul, tanpa memaksa. Karena kedewasaan tak selalu datang dari waktu yang panjang, tapi dari seberapa dalam seseorang memahami arti hadir untuk sekitar.

Kita tidak butuh yang selalu sepaham, tapi kita butuh seseorang yang mau mengusahakan arah yang sama. Kita tidak harus selalu setuju, tapi kita bisa tetap sejalan. Dan saat dunia mencoba memisahkan kita lewat perbedaan yang terlihat, mari ingat: rasa yang nyata tak pernah tumbuh dari keseragaman, tapi dari penerimaan.

Seumur hidup itu lama. Terlalu lama jika dijalani dengan orang yang tak benar-benar melihat kita. Maka senantiasa bersama, bukan hanya karena nyaman atau cocok sementara, tapi karena kita tahu cara menghargai kehadiran masing-masing, bahkan di hari-hari kita merasa tak pantas dicintai.

Kita tak mencari yang sempurna, atau yang serba bisa. Kita hanya ingin seseorang yang tahu bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih tua atau muda, tapi tentang siapa yang bersedia berjalan berdampingan, menatap ke arah yang sama, meski langkah kita berbeda cepatnya.

Jika suatu hari nanti kita lupa bagaimana caranya menjelaskan rasa, saling peluklah seperti hari pertama kita saling percaya. Karena dalam diam pun, orang yang benar-benar menghargai akan tahu: ada cinta yang tak butuh banyak kata, hanya butuh dipahami tanpa terburu-buru.

Jadi, jika kita saling bertanya kenapa memilih tetap tinggal meski jalan kita tak selalu rata—karena kita saling percaya, tidak perlu menjadi tua dulu untuk dimengerti. Kita setara, karena kita saling menghargai. Dan itu lebih dari cukup untuk menjadikan cinta kita bertahan, seumur hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Mahasiswa Sistem Informasi UISI Terpilih Mengikuti Magang Bersertifikat Posisi HR Generalist dan Performance Management System di Hasnur Centre Kalimantan Selatan

Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) merupakan program Kemendikbudristek yang memberikan pengalaman selama satu semester kepada mahasiswa dalam mengasah kemampuan dan pengetahuannya di berbagai dunia industri mitra secara langsung, salah satunya mitra Hasnur Centre. Hasnur Centre merupakan  Corporate Social Responsibility  dari Hasnur Group yang berlokasi di Kalimantan Selatan. Hasnur Centre mengusung konsep  Innovation Learning Internship  dengan memadukan konsep utama antara  On the Job Training  dan  Working Learning Internship . Hasnur Centre mengedepankan proses pembelajaran dan pembekalan persiapan masuk dunia industri secara kolaborasi dan kerjasama lintas posisi dan lintas unit. Pada MSIB  Batch  4, Hasnur Centre membuka 21 posisi dan menerima 192 mahasiswa magang dari 71 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Adapun Arif Muhammad Iqbal dari Sistem Informasi Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) terpilih mengikuti ...

Menjadi Teman yang Tak Pernah Kita Temui

Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan. Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta. Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebai...