Langsung ke konten utama

Damar: Bayang-Bayang yang Tak Pernah Dipanggil Pulang

Pagi ini, Damar duduk di bangku taman tempat biasa ia melarikan diri dari kebisingan hidup. Ia menatap kosong daun-daun kering yang berjatuhan, seperti hatinya yang perlahan hancur namun tak terdengar. Ia bukan seseorang yang dilupakan—karena untuk dilupakan, seseorang harus lebih dulu diingat. Ia hanya bayang-bayang; ada tapi tak pernah benar-benar dilihat. Dalam setiap lingkaran pertemanan, ia adalah tempat curhat, bukan yang dicurhati. Dalam setiap hubungan, ia adalah persinggahan, bukan tujuan.

Damar bekerja keras di kantornya, menyelesaikan tumpukan pekerjaan bahkan milik rekan-rekannya. Tak pernah menuntut, tak pernah mengeluh. Ketika ada masalah, ia yang paling dulu dimintai tolong, tapi saat keberhasilan datang, ia dilangkahi seperti anak tangga rusak. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin, memang tak semua orang ditakdirkan menjadi sorotan. Beberapa hanya menjadi lampu-lampu kecil di pinggir panggung, memastikan pemeran utama terlihat terang.

Di rumah, Damar adalah anak bungsu yang harus selalu kuat. Ia tidak pernah berkata tidak, karena takut mengecewakan. Tapi di dalam dirinya, ia ingin sekali ada yang memeluk dan berkata, “Kamu cukup. Kamu berhak menjadi yang utama.” Tapi kalimat itu tak pernah datang. Bahkan dalam doanya, ia tak lagi meminta—hanya diam, menunggu apakah Tuhan pun mulai lupa padanya.

Cinta? Ah, cinta bagi Damar adalah episode yang paling menyakitkan. Ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tapi orang itu hanya menjadikannya tempat berteduh sementara dari badai hubungan lain. Ketika badai itu reda, Damar ditinggalkan tanpa pamit. Bahkan kini, saat ia tengah membangun hubungan yang baru, ia tahu hatinya bukan tempat tinggal utama. Ia melihatnya dari tatapan sang calon kekasih yang masih tersimpan jelas diingatan. Damar kehilangan sikap hangat calon kekasihnya yang ia temui di awal hubungan, padahal itu satu-satunya alasan bagi Damar bukan untuk jatuh cinta lagi, melainkan bangun cinta. Damar tak lagi berharap menjadi satu-satunya. Ia hanya ingin tidak disimpan sebagai rencana cadangan.

Malam ini, Damar menulis surat. Bukan surat kemunduran, tapi semacam wasiat bagi siapa pun yang mungkin peduli. Isinya sederhana: pesan agar tak perlu repot jika ia pergi, tak perlu membuat upacara, tak perlu menuliskan kata manis. Ia tahu, tak akan ada yang merasa kehilangan sepenuhnya. Ia hanya ingin tahu, berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum ketidakhadirannya menjadi nyata. Sehari? Seminggu? Atau mungkin tidak sama sekali?

Hidup Damar berakhir dengan tenang, di kamar sempit yang tak pernah dihias perabotan yang sempat ia simpan di keranjang oranye. Tak ada berita. Tak ada tangisan. Di grup kantor, hanya satu pesan masuk: “Ada yang tahu kenapa meja Damar kosong terus?” Di ponsel calon kekasihnya, pesan terakhir dari Damar masih belum dibaca. Tapi dari jendela yang terbuka, angin membawa suara lembut yang entah dari mana: “Maaf, aku tak bisa menunggu untuk diutamakan.” Dan dunia... tetap berjalan seperti biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Mahasiswa Sistem Informasi UISI Terpilih Mengikuti Magang Bersertifikat Posisi HR Generalist dan Performance Management System di Hasnur Centre Kalimantan Selatan

Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) merupakan program Kemendikbudristek yang memberikan pengalaman selama satu semester kepada mahasiswa dalam mengasah kemampuan dan pengetahuannya di berbagai dunia industri mitra secara langsung, salah satunya mitra Hasnur Centre. Hasnur Centre merupakan  Corporate Social Responsibility  dari Hasnur Group yang berlokasi di Kalimantan Selatan. Hasnur Centre mengusung konsep  Innovation Learning Internship  dengan memadukan konsep utama antara  On the Job Training  dan  Working Learning Internship . Hasnur Centre mengedepankan proses pembelajaran dan pembekalan persiapan masuk dunia industri secara kolaborasi dan kerjasama lintas posisi dan lintas unit. Pada MSIB  Batch  4, Hasnur Centre membuka 21 posisi dan menerima 192 mahasiswa magang dari 71 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Adapun Arif Muhammad Iqbal dari Sistem Informasi Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) terpilih mengikuti ...

Menjadi Teman yang Tak Pernah Kita Temui

Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan. Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta. Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebai...