Pagi ini, Damar duduk di bangku taman tempat biasa ia melarikan diri dari kebisingan hidup. Ia menatap kosong daun-daun kering yang berjatuhan, seperti hatinya yang perlahan hancur namun tak terdengar. Ia bukan seseorang yang dilupakan—karena untuk dilupakan, seseorang harus lebih dulu diingat. Ia hanya bayang-bayang; ada tapi tak pernah benar-benar dilihat. Dalam setiap lingkaran pertemanan, ia adalah tempat curhat, bukan yang dicurhati. Dalam setiap hubungan, ia adalah persinggahan, bukan tujuan.
Damar bekerja keras di kantornya, menyelesaikan tumpukan pekerjaan bahkan milik rekan-rekannya. Tak pernah menuntut, tak pernah mengeluh. Ketika ada masalah, ia yang paling dulu dimintai tolong, tapi saat keberhasilan datang, ia dilangkahi seperti anak tangga rusak. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin, memang tak semua orang ditakdirkan menjadi sorotan. Beberapa hanya menjadi lampu-lampu kecil di pinggir panggung, memastikan pemeran utama terlihat terang.
Di rumah, Damar adalah anak bungsu yang harus selalu kuat. Ia tidak pernah berkata tidak, karena takut mengecewakan. Tapi di dalam dirinya, ia ingin sekali ada yang memeluk dan berkata, “Kamu cukup. Kamu berhak menjadi yang utama.” Tapi kalimat itu tak pernah datang. Bahkan dalam doanya, ia tak lagi meminta—hanya diam, menunggu apakah Tuhan pun mulai lupa padanya.
Cinta? Ah, cinta bagi Damar adalah episode yang paling menyakitkan. Ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tapi orang itu hanya menjadikannya tempat berteduh sementara dari badai hubungan lain. Ketika badai itu reda, Damar ditinggalkan tanpa pamit. Bahkan kini, saat ia tengah membangun hubungan yang baru, ia tahu hatinya bukan tempat tinggal utama. Ia melihatnya dari tatapan sang calon kekasih yang masih tersimpan jelas diingatan. Damar kehilangan sikap hangat calon kekasihnya yang ia temui di awal hubungan, padahal itu satu-satunya alasan bagi Damar bukan untuk jatuh cinta lagi, melainkan bangun cinta. Damar tak lagi berharap menjadi satu-satunya. Ia hanya ingin tidak disimpan sebagai rencana cadangan.
Malam ini, Damar menulis surat. Bukan surat kemunduran, tapi semacam wasiat bagi siapa pun yang mungkin peduli. Isinya sederhana: pesan agar tak perlu repot jika ia pergi, tak perlu membuat upacara, tak perlu menuliskan kata manis. Ia tahu, tak akan ada yang merasa kehilangan sepenuhnya. Ia hanya ingin tahu, berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum ketidakhadirannya menjadi nyata. Sehari? Seminggu? Atau mungkin tidak sama sekali?
Hidup Damar berakhir dengan tenang, di kamar sempit yang tak pernah dihias perabotan yang sempat ia simpan di keranjang oranye. Tak ada berita. Tak ada tangisan. Di grup kantor, hanya satu pesan masuk: “Ada yang tahu kenapa meja Damar kosong terus?” Di ponsel calon kekasihnya, pesan terakhir dari Damar masih belum dibaca. Tapi dari jendela yang terbuka, angin membawa suara lembut yang entah dari mana: “Maaf, aku tak bisa menunggu untuk diutamakan.” Dan dunia... tetap berjalan seperti biasa.
Komentar
Posting Komentar