Langsung ke konten utama

Raka: Hanya Tersisa Jarak dan Luka

Di sebuah pinggiran kota kecil yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah Damar, sosok lentera kecil yang terus berusaha menyala meski hampir padam. Damar menjalani hari-harinya dengan bayang-bayang kenangan yang pahit. Ia tumbuh dengan harapan besar akan kehangatan hingga tentang kebersamaan yang pernah dijanjikan tapi tak pernah ditepati. Sejak keputusan dari sosok yang ia anggap cahaya, hidupnya berubah menjadi lorong-lorong sunyi yang penuh amarah dan kecewa. Ia pernah menawarkan segalanya—tempat tinggal, kenyamanan, bahkan hati yang sudah rapuh—demi sebuah kebersamaan yang sederhana. Tapi permintaannya dianggap angin lalu, digantikan dengan keputusan yang meruntuhkan seluruh puzzle dunia kecilnya.

Sosok Raka yang dulu menjadi cahaya justru memilih jalan yang tak pernah Damar mengerti. Sesuai namanya, Raka berarti api yang pernah menjadi penerang. Raka lebih memilih tinggal bersama seorang Larisa yang datang membawa masa lalu, lengkap dengan dua kisah kecil yang bukan bagian dari cerita mereka. Larisa bernuansa lembut namun juga menyimpan kekuatan tersembunyi. Sebuah nama yang mencerminkan sosok yang tampak menjadi tempat berlindung baru bagi Raka, meskipun perlindungan itu datang dengan bayaran yang tak kasat mata: jarak dan luka.

Setiap bulan, Raka memberikan selembar rupiah merah, seolah membayar pengganti kasih sayang yang tak pernah kembali datang. Rupiah itu bukan untuk Larisa, bukan pula bentuk perhatian cinta Raka. Itu adalah ongkos untuk tetap merawat Raka layaknya di sebuah panti, seakan kehadiran masa lalu Raka yang dulu berarti, kini hanya gangguan yang harus terus dihindari.

Singkatnya, Damar pun tumbuh dalam kehampaan. Ia belajar mencintai dinginnya malam hingga menjadi sahabat bagi sunyi dan kekerasan. Bukan karena ia ingin, tapi karena ia merasa tak ada yang tersisa untuk dipeluk. Di jalanan, ia menemukan cara baru untuk bertahan. Jalanan mengajarkannya bahwa kasih bisa berkhianat, sedangkan tempat pulang bisa berubah menjadi ruang asing yang tak menerima kembali kehadirannya. Ia menjadi sosok yang keras, bukan karena jahat, tapi karena tak ingin kembali disakiti.

Namun di sisi lain, sosok cahaya yang dulu pergi juga tak benar-benar bahagia. Ia menjalani hari-hari dengan perenungan, mencoba menghibur diri bahwa keputusannya melupakan masa lalunya secepat mungkin melalui hidup bersama orang baru adalah pilihan terbaik. Tapi setiap malam, selalu ada suara dari masa lalunya yang mengetuk relung hatinya, menuntut jawaban yang tak pernah mampu ia jawab. Ia hidup dalam perawatan seseorang pilihannya yang tampak hangat dari luar, namun dingin di dalam hati; Larisa. Meski tubuh Raka dijaga, jiwanya perlahan membeku, merindukan sesuatu yang ia tahu telah hilang selamanya.

Pada akhirnya, tak ada pemenang, tak ada pelukan yang bisa menghapuskan luka, dan tak ada kata maaf yang mampu mengembalikan waktu. Atas pilihan Raka, Damar hidup terpisah oleh keputusan hingga oleh luka yang tak sempat disembuhkan. Dua hati yang pernah saling merajut masa depan, kini hanya saling menunggu dari kejauhan—dengan mata yang tak lagi saling menatap, hanya sesekali basah saat malam terlalu sunyi untuk dilawan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Rengganis: Jika Itu Namamu

Rengganis selalu percaya bahwa cinta tak harus diucap, cukup ditunjukkan melalui perhatian kecil yang konsisten. Ia mencintai Damar dengan diam-diam yang riuh: lewat secangkir kopi yang selalu ia buatkan saat mereka belajar bersama, lewat catatan pengingat yang ia sisipkan di buku Damar, dan lewat senyum yang ia lempar setiap mata mereka tak sengaja bertemu. Tapi Damar tak pernah benar-benar menangkap sinyal-sinyal itu. Baginya, semua itu adalah bentuk keramahan biasa dari seorang sahabat. Di sisi lain, Damar menyimpan perasaan yang sama, hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih untuk selalu ada—menemani Rengganis pulang meski jalannya berlawanan, mengingatkan untuk makan saat deadline menumpuk, hingga diam-diam mencetak foto Rengganis saat wisuda dan menyimpannya dalam dompet pemberian Rengganis kala itu. Namun, Rengganis mengira Damar hanya laki-laki baik yang perhatian pada semua orang. Mereka saling mencintai, tapi tak saling tahu. Hari demi hari berlalu,...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...