Langsung ke konten utama

Rana: Cukup Satu Buku Saja

Jauh dari sebuah pusat kota yang diselimuti aroma aspal dan denting lonceng gereja tua, tinggal seseorang bernama Damar. Namanya berarti lentera, sebab sejak kecil ia gemar memperhatikan dunia dalam gelapnya malam. Namun, lebih dari dunia, matanya kerap tertuju pada sosok yang selalu duduk di bangku paling pojok perpustakaan tua—Rana, gadis berambut senja yang mencintai sunyi dan halaman-halaman yang berbicara. Sejak saat itu, Damar tak pernah menyapanya. Ia hanya menatap, mencatat, dan menyimpan ribuan puisi yang tak pernah ia tulis.

Rana sendiri, seperti cahaya pagi yang datang pelan-pelan dan menerangi ruang rasa Damar. Bagi Damar, ia bukan sekadar gadis yang gemar membaca—ia adalah pertanyaan yang belum pernah dijawab, halaman kosong yang menunggu ditulisi, dan mungkin… buku yang selama ini ia cari. Namun, bagaimana bisa jatuh cinta hanya karena seseorang membaca buku yang sama berulang kali?

Setiap hari, Damar mencoba membaca buku yang berbeda, berharap salah satunya bisa menjadi kunci. Tapi tak satu pun membawa perasaan yang sama. Hingga suatu hari, ia menemukan sebuah buku usang tanpa sampul, tertinggal di meja tempat Rana biasa duduk. Buku itu tak populer, tak masuk daftar rekomendasi mana pun, tapi begitu ia membukanya, rasanya seperti mendengar suara yang sangat familiar. Halamannya seperti mengulang suara hati Rana.

Hari-hari berikutnya, Damar membaca buku itu berulang kali. Ia menulis catatan kecil di sela-sela halaman, bukan sebagai pesan, tapi harapan—bahwa mungkin suatu hari seseorang akan membacanya kembali. Suatu malam, ia kembali ke perpustakaan dan mendapati Rana berdiri di depan rak, memegang buku yang sama, menatap halaman yang sama, dengan alis yang sedikit mengernyit membaca tulisan tangan Damar: “Kadang, hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Aku mencari buku itu. Dan mungkin… kau yang membacanya.”

Rana tersenyum tipis. Tak ada kata yang terucap, hanya anggukan kecil seolah ia tahu, bahwa mereka berdua akhirnya membaca halaman yang sama, di waktu yang bersamaan. Mungkin cinta memang tak perlu dinyatakan, hanya perlu dipahami—seperti buku yang mengerti siapa pembacanya, dan pembaca yang tahu kapan harus berhenti mencari.

Sejak saat itu, mereka tidak lagi duduk sendiri-sendiri. Mereka tak banyak bicara, tapi tiap pergantian halaman adalah percakapan. Dalam diam itu, Damar sadar: ia tidak jatuh cinta pada buku itu saja—ia jatuh cinta pada membaca karena telah menemukan seseorang yang menjadikannya mungkin. Cukup satu buku. Cukup satu Rana. Dan cukup satu alasan untuk terus membuka lembaran baru setiap harinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan yang Tak Lagi Sama

Langit Batujajar tak terlalu cerah siang itu. Awan-awan menggantung berat, seolah menahan hujan yang sebentar lagi jatuh. Damar duduk di barak latihan Kopassus, menyeka keringat dari pelipis setelah menyelesaikan rangkaian latihan militer hari ke-6. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru lebih lelah dari apapun. Lalu, ponselnya bergetar, tanda notifikasi pesan masuk dari orang asing, namun samar-samar ia mengenalnya. "Novi." Nama itu muncul dengan tenang di layar, seperti sebutir batu kecil yang dilemparkan ke danau lalu menciptakan riak yang cepat menjalar hingga ke dalam. Sosok yang pertama kali mewarnai tulisan blog ini bertahun-tahun yang lalu. Satu pesan pendek, yang terasa berat: "Halo Damar, lagi dimana? Pengen ketemu aja, tapi kamu free nya kapan?" Damar tidak langsung membalas. Ia mematung. Sudah berapa lama sejak terakhir mereka bicara? Lima tahun? Enam tahun? Terakhir mereka benar-benar duduk bersama adalah saat mereka kelas 12 SMA. Waktu itu, mereka memb...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...