Langit Batujajar tak terlalu cerah siang itu. Awan-awan menggantung berat, seolah menahan hujan yang sebentar lagi jatuh. Damar duduk di barak latihan Kopassus, menyeka keringat dari pelipis setelah menyelesaikan rangkaian latihan militer hari ke-6. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru lebih lelah dari apapun.
Lalu, ponselnya bergetar, tanda notifikasi pesan masuk dari orang asing, namun samar-samar ia mengenalnya.
"Novi."
Nama itu muncul dengan tenang di layar, seperti sebutir batu kecil yang dilemparkan ke danau lalu menciptakan riak yang cepat menjalar hingga ke dalam. Sosok yang pertama kali mewarnai tulisan blog ini bertahun-tahun yang lalu.
Satu pesan pendek, yang terasa berat:
"Halo Damar, lagi dimana? Pengen ketemu aja, tapi kamu free nya kapan?"
Damar tidak langsung membalas. Ia mematung. Sudah berapa lama sejak terakhir mereka bicara? Lima tahun? Enam tahun? Terakhir mereka benar-benar duduk bersama adalah saat mereka kelas 12 SMA. Waktu itu, mereka membuat kesepakatan yang tak terucap bahwa hidup masing-masing terlalu rumit untuk tetap saling menggenggam.
Selanjutnya, Novi melanjutkan kuliah di Bandung, sedangkan Damar dengan segala kebanggaan dan ambisi yang dipikul, berkuliah di Gresik. Waktu merentang panjang, dan kabar hanya datang sesekali, seperti surat yang tak pernah dikirimkan.
Saat ini, Damar seorang abdi negara di Kementerian Pertahanan, dipanggil ke pelatihan kehormatan Kopassus—bukan sekadar prestise, tapi konsekuensi dari pilihan hidup yang tegak lurus. Novi, kini kembali ke Garut, melanjutkan usaha keluarga. Dunia mereka berbeda, semakin berbeda sejak berpisah.
Damar hanya membalas:
"Di Kopassus Batujajar. Tumben tiba-tiba chat gini."
Namun seminggu setelah pelatihan selesai, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, Novi mengirim pesan yang lebih ringan.
"Damar, aku ke Bandung haru Sabtu, kamu bisanya di jam berapa?"
Entah kenapa, hari itu Damar punya waktu luang. Dan entah kenapa juga, ia mengiyakan.
Mereka bertemu di Sushi Tei, Paskal 23.
Langkah Damar terasa asing saat memasuki restoran itu. Ia mengenakan pakaian kemeja yang ia beli di salah satu mall di Garut, karena di hadapannya duduk seorang perempuan yang dulu pernah ia jaga dalam doa-doa malam yang panjang.
Novi tersenyum saat melihatnya. Senyum yang tidak berubah, tapi sorot matanya tak lagi sama. Ada kelelahan di sana, dan juga paksaan kedewasaan yang tak bisa dibohongi.
“Makasih ya, udah mau ketemu,” katanya.
“Makasih juga udah ngajak ketemu,” jawab Damar. Mereka berdua tertawa kecil—kaku, kikuk, tapi jujur.
Obrolan mereka mengalir pelan. Mulai dari pekerjaan Damar yang kini berpindah-pindah kota, sampai Novi yang akhirnya kembali ke rumah setelah bertahun-tahun merantau. Mereka bercerita tentang cinta, mimpi, dan keluarga—yang datang dan pergi, yang tumbuh dan gugur sebelum sempat mekar.
“Awal bulan ini aku didaftarin haji bareng kakak dan adik sama ibu,” ujar Novi di tengah obrolan.
“Serius? Aku juga udah daftar beberapa bulan lalu,” kata Damar sambil tersenyum tipis. Tapi di dalam hatinya, ada desir yang aneh seperti selembar doa yang tiba-tiba terseret angin.
Novi memandang ke luar jendela. “Lucu ya. Dulu kita pernah ngomong soal naik haji bareng. Tapi hidup kayaknya punya jalan lain.”
Damar menunduk. “Iya. Dan kamu udah sama Kharisma sekarang, kan?”
Novi mengangguk pelan. “Aku tahu kamu nggak terlalu suka dia. Tapi... dia ada saat aku hancur. Walau nggak sempurna, dia hadir.”
Damar tak berkata apa-apa. Ia ingin bilang bahwa kehadiran belum tentu sama dengan memahami. Tapi ia tahan. Ini bukan waktunya mempertanyakan kebahagiaan orang lain.
Mereka pindah ke area foodcourt yang lebih hangat. Angin dari AC restoran terlalu dingin, menusuk tulang dan kenangan.
Saat itu, Novi bercerita dengan menahan tangis yang nyaris pecah.
“Kamu tahu, aku capek selalu dibandingin sama kakakku. Dari kecil, aku kayak cuma pelengkap. Bahkan waktu aku ngide rintis usaha, orang rumah lebih mikirin kakakku daripada aku yang bangun usaha itu sendiri.”
Damar mendengarkan. Ada luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata, dan Novi membawanya sejak lama.
“Makanya aku maksa ketemu. Aku cuma pengen diingat sebagai seseorang... yang pernah berarti. Buat seseorang,” ujarnya pelan.
“Nov,” Damar berkata lirih, “kamu nggak pernah jadi orang asing buat aku. Bahkan sampai sekarang.”
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Novi harus berangkat ke klinik gigi untuk konsultasi. Damar menawarkan tumpangan motor, tapi saat mereka keluar dari mall, hujan deras turun tanpa aba-aba. Langit seperti ikut menangis.
“Wah, nggak mungkin naik motor ini,” ujar Novi sambil menarik lengan Damar.
“Kamu pesen grabcar aja ya,” kataku cepat.
Tak lama, mobil datang. Novi berdiri di sisi mobil, lalu menoleh ke Damar. Tangannya menggenggam jemari Damar pelan, lalu menyalaminya kemudian menempelkan tangan Damar ke pipinya. Lembut. Hangat. Sunyi. Seketika, waktu seperti berhenti. Pipinya masih sama seperti dulu. Tempat yang pernah menjadi rumah bagi tangan Damar, tempat bersandar yang dulu ia jaga. Tapi hari ini, itu bukan rumah lagi. Hanya nostalgia.
Mobil melaju. Damar berdiri lama, hujan terus turun membasahi kenangan. Tapi di dalam dirinya, ada yang lebih deras dari hujan—rasa kehilangan yang tak bisa ia jelaskan, meskipun orang yang ia rindukan baru saja berdiri dihadapannya.
Beberapa pertemuan bukan untuk kembali. Beberapa kehangatan hanya datang untuk mengingatkan bahwa kita pernah punya rumah, walau tak lagi bisa kita tinggali.
Damar tahu, seperti juga Novi tahu, bahwa cinta yang dulu tak salah. Hanya saja, waktu memintanya pergi sebelum sempat tumbuh dewasa. Mungkin memang ada yang datang bukan untuk tinggal. Tapi untuk memberi tahu bahwa hati yang dulu pernah saling mengisi... pernah nyata, walau tak lagi sama.
Komentar
Posting Komentar