Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya.
Tak lama berselang, pesan lain masuk dari Lina—sesama rekan pertukaran mahasiswa di Palembang. Lina mengucapkan terima kasih karena tips dari Damar membantunya diterima kerja di perusahaan impiannya. Di tengah kebingungan batin, ucapan itu menjadi setetes sejuk di dahaga hati Damar. Damar pun bercerita pada Lina, soal pesan Rani tadi. Lina hanya menjawab ringan, “Kadang hidup mengirim teka-teki dari orang yang tak kita kira. Tapi yang menjawabnya tetap kamu sendiri.”
Damar terdiam. Ia menatap langit malam, lalu mengambil air wudhu. Malam itu, ia bersujud dalam shalat istikharah, memohon petunjuk dengan sederhana: “Ya Allah, jika ini baik untukku, dekatkanlah! Jika tidak, jauhkan dan lapangkan hatiku!”
Malam membawa kantuk yang pelan, dan dalam tidurnya, Damar bermimpi.
Ia melihat dirinya berada di sebuah gedung megah namun penuh kesederhanaan. Di panggung utama, tampak tiga pasangan satu per satu bersanding bahagia. Mereka adalah rekan-rekannya sesama PNS satu angkatan di Kesdam Siliwangi. Salah satunya adalah dirinya sendiri.
Sesi salaman dimulai. Di antara tamu, Bu Iis, guru matematika Damar di madrasah dulu, tersenyum lalu berkomentar, “Ah, Arif mah nikah sama dia karena sesama PNS aja.” Damar hanya tersenyum. Dalam hatinya ia berkata, “Bu, aku bahkan lebih dulu mencintai seseorang yang juga PNS bahkan satu posisi denganku sebagai operator… tapi takdir bukan jodohku. Karena ternyata, jodoh tak sebatas profesi, melainkan takdir yang menemukan kita di waktu yang tak kita sangka.”
Setelah pesta usai, tanpa selebrasi berlebih, mereka pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Dalam mimpi itu, samar-samar Damar melihat dirinya mengantar Nina ke Bank Syariah Indonesia. Ia menggenggam tangan istrinya sambil berkata, “Kita daftarkan porsi haji kamu, ya! Biar suatu hari nanti, kita bisa berangkat bersama.”
Sebagai perintis yang telah kehilangan sosok orang tua masing-masing, Damar dan Nina belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa megah kita merayakan sebuah momen bersama pasangan, melainkan seberapa dalam kita menghayati arti keberlanjutan setelahnya. Bahkan pada hari yang katanya paling bahagia sekalipun—hari pernikahan—Damar menyadari bahwa bukan pesta yang membuat hidup penuh makna, tapi perjalanan panjang yang kita jalani dengan kesadaran bahwa setiap langkah ke depan adalah bentuk penghormatan bagi orang tua yang telah tiada, dan bentuk kesungguhan untuk hidup lebih lama, lebih berarti, dan lebih membahagiakan, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan bentuk pengabdian kepada orang tua yang kita cintai.
Itu bukan mimpi tentang kemewahan. Tak ada pesta berlebihan. Tak ada foto prewedding viral. Tapi ada makna yang menggugah hati bahwa hidup yang lama dan utuh jauh lebih bernilai daripada momen bahagia pernikahan yang cepat membakar dan segera padam.
Tak terasa adzan Subuh berkumandang. Damar terbangun dengan keringat dingin. Tak ada jawaban pasti dari mimpi itu, tapi hatinya menghangat.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang lebih dulu mengetuk pintu hatimu, bukan pula tentang siapa yang paling keras memanggil namamu dalam keramaian. Hidup adalah tentang siapa yang dengan sabar duduk bersamamu dalam ruang-ruang sunyi, tak tergesa, tak menuntut, hanya hadir—karena tahu bahwa cinta yang sesungguhnya bukan untuk dikejar atau dipaksakan. Ia tumbuh pelan, dalam diam, dan saling pengertian. Ia menunggu waktu yang tepat, bukan waktu yang cepat. Bersama orang yang tak hanya ingin menjadi bagian dari kisahmu, tapi bersedia menjadi saksi prosesmu. Dan ketika pintu itu akhirnya dibuka, bukan karena desakan, melainkan karena kesiapan jiwa, kamu akan tahu bahwa inilah rumah yang selama ini kamu cari. Bukan yang megah dari luar, tapi yang tenang dan utuh di dalam—dibangun dari keyakinan, ditopang oleh keikhlasan, dan dihuni oleh cinta yang tak lagi perlu banyak kata untuk menjelaskan bahwa ia akan tetap tinggal, meski dunia di luar terus berubah.
Komentar
Posting Komentar