Langit Batujajar tak terlalu cerah siang itu. Awan-awan menggantung berat, seolah menahan hujan yang sebentar lagi jatuh. Damar duduk di barak latihan Kopassus, menyeka keringat dari pelipis setelah menyelesaikan rangkaian latihan militer hari ke-6. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru lebih lelah dari apapun. Lalu, ponselnya bergetar, tanda notifikasi pesan masuk dari orang asing, namun samar-samar ia mengenalnya. "Novi." Nama itu muncul dengan tenang di layar, seperti sebutir batu kecil yang dilemparkan ke danau lalu menciptakan riak yang cepat menjalar hingga ke dalam. Sosok yang pertama kali mewarnai tulisan blog ini bertahun-tahun yang lalu. Satu pesan pendek, yang terasa berat: "Halo Damar, lagi dimana? Pengen ketemu aja, tapi kamu free nya kapan?" Damar tidak langsung membalas. Ia mematung. Sudah berapa lama sejak terakhir mereka bicara? Lima tahun? Enam tahun? Terakhir mereka benar-benar duduk bersama adalah saat mereka kelas 12 SMA. Waktu itu, mereka memb...
Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati: "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...