Langsung ke konten utama

Menjadi Teman yang Tak Pernah Kita Temui

Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan.

Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta.

Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebaikan—tetapi agar tak ada lagi yang merasa sesunyi kita.

Sebab, tak semua luka harus diwariskan. Kita bisa memutus siklus itu. Kita bisa jadi pelukan pertama saat seseorang merasa runtuh. Kita bisa jadi telinga paling sabar untuk tangis yang tak sempat diceritakan. Kita bisa jadi cahaya kecil, meski kita dulu tumbuh dalam gelap.

Menjadi orang baik bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang memilih, di tengah luka yang belum sembuh, untuk tidak menyakiti orang lain. Bahkan lebih dari itu—kita memilih untuk menyembuhkan orang lain, agar dunia tak lagi sekeras yang pernah kita alami.

Kita tahu rasanya mencari seseorang yang tak kunjung datang. Maka, biarlah kita yang datang. Kita tahu rasanya berteriak tanpa suara, berharap ada yang mengerti. Maka, biarlah kita yang mengerti. Kita tahu betapa sunyinya hidup saat cinta hanya jadi kata tanpa makna. Maka, biarlah kita yang memberi makna itu.

Kelak, mungkin kita tetap sendiri. Tapi lihatlah, sekeliling kita akan lebih hangat karena kehadiran kita. Kita mungkin tak punya seseorang saat ini, tapi kita bisa menjadi seseorang untuk banyak hati yang butuh teman.

Suatu hari nanti, saat lelah menyapa dan ragu kembali datang, semoga kita bisa bangga. Bukan karena kita kuat menanggung sepi, tapi karena kita memilih untuk tidak mewariskannya.

Jika tak ada orang baik dalam hidupmu, jadilah orang baik itu. Dunia tidak sedang mencari kesempurnaan—ia hanya butuh lebih banyak hati yang ingin menemani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Frugal Living Ala Gen Z: Hidup untuk Hidup Siapa?

Setiap pagi, Damar memulai harinya dengan selembar roti tawar dan secangkir kopi sachet yang sudah kadaluarsa seminggu lalu. Ia tertawa kecil melihat tanggalnya, lalu berbisik pelan. “Masih bisa diminum,” katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hidup hemat, katanya. Hidup frugal. Bukan pelit, tapi sadar prioritas. Dan prioritas Damar adalah masa depan, rumah mungil yang nyaman, dan hidup sederhana bersama orang yang ia cintai. Di kantor, Damar menolak ajakan makan siang di luar. Ia membuka bekal nasi dan telur dadar yang sudah disiapkan sejak malam. Teman-temannya menyindir, “Kapan kamu berhenti nabung dan mulai hidup?” Tapi Damar hanya tersenyum. Mereka tak tahu, setiap rupiah yang ia hemat adalah batu bata untuk membangun mimpi hidup bersama Rengganis — seseorang yang katanya ingin menua bersamanya. Namun, ketika ia pulang, Rengganis masih di tempat yang sama. Duduk bersandar di sofa, menonton serial yang sama sejak pagi. “Belum dapat panggilan kerja,” katanya singkat, seperti k...

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Perpisahan yang Terlambat Ditangisi

Perpisahan angkatan adalah musim yang selalu datang, hadir setia setiap tahun bersama lagu-lagu lama yang entah sudah diputar untuk angkatan ke berapa. Semuanya terasa serupa—tangis, tabligh muwadaah, lilin, dan bucket bunga warna-warni. Tapi tahun ini berbeda. Lagu-lagu itu tak lagi terdengar klise, malah menyesakkan dada. Bukan karena nadanya, tapi karena kenangan yang diam-diam melekat dalam diam dan tumbuh tanpa disuruh. Empat tahun lalu, aku pergi meninggalkan tanah perjuangan ini untuk mengejar mimpi yang lebih tinggi di Timur. Aku pikir jarak membuatku asing dari segalanya. Tapi siapa sangka, lewat layar yang redup dan suara yang kadang terputus, aku mulai mengenal mereka—angkatan yang malam ini, besok, atau lusa berdiri di panggung perpisahan itu. Mereka bukan sekadar adik kelas; mereka adalah benih-benih harapan yang kutanam dalam lomba, diskusi malam, dan strategi ujian masuk perguruan tinggi. Tak pernah terbayang, perkenalan virtual itu akan berakhir dengan rasa kehilangan n...