Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan.
Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta.
Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebaikan—tetapi agar tak ada lagi yang merasa sesunyi kita.
Sebab, tak semua luka harus diwariskan. Kita bisa memutus siklus itu. Kita bisa jadi pelukan pertama saat seseorang merasa runtuh. Kita bisa jadi telinga paling sabar untuk tangis yang tak sempat diceritakan. Kita bisa jadi cahaya kecil, meski kita dulu tumbuh dalam gelap.
Menjadi orang baik bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang memilih, di tengah luka yang belum sembuh, untuk tidak menyakiti orang lain. Bahkan lebih dari itu—kita memilih untuk menyembuhkan orang lain, agar dunia tak lagi sekeras yang pernah kita alami.
Kita tahu rasanya mencari seseorang yang tak kunjung datang. Maka, biarlah kita yang datang. Kita tahu rasanya berteriak tanpa suara, berharap ada yang mengerti. Maka, biarlah kita yang mengerti. Kita tahu betapa sunyinya hidup saat cinta hanya jadi kata tanpa makna. Maka, biarlah kita yang memberi makna itu.
Kelak, mungkin kita tetap sendiri. Tapi lihatlah, sekeliling kita akan lebih hangat karena kehadiran kita. Kita mungkin tak punya seseorang saat ini, tapi kita bisa menjadi seseorang untuk banyak hati yang butuh teman.
Suatu hari nanti, saat lelah menyapa dan ragu kembali datang, semoga kita bisa bangga. Bukan karena kita kuat menanggung sepi, tapi karena kita memilih untuk tidak mewariskannya.
Jika tak ada orang baik dalam hidupmu, jadilah orang baik itu. Dunia tidak sedang mencari kesempurnaan—ia hanya butuh lebih banyak hati yang ingin menemani.
Komentar
Posting Komentar