Langsung ke konten utama

Frugal Living Ala Gen Z: Hidup untuk Hidup Siapa?

Setiap pagi, Damar memulai harinya dengan selembar roti tawar dan secangkir kopi sachet yang sudah kadaluarsa seminggu lalu. Ia tertawa kecil melihat tanggalnya, lalu berbisik pelan. “Masih bisa diminum,” katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hidup hemat, katanya. Hidup frugal. Bukan pelit, tapi sadar prioritas. Dan prioritas Damar adalah masa depan, rumah mungil yang nyaman, dan hidup sederhana bersama orang yang ia cintai.

Di kantor, Damar menolak ajakan makan siang di luar. Ia membuka bekal nasi dan telur dadar yang sudah disiapkan sejak malam. Teman-temannya menyindir, “Kapan kamu berhenti nabung dan mulai hidup?” Tapi Damar hanya tersenyum. Mereka tak tahu, setiap rupiah yang ia hemat adalah batu bata untuk membangun mimpi hidup bersama Rengganis — seseorang yang katanya ingin menua bersamanya.

Namun, ketika ia pulang, Rengganis masih di tempat yang sama. Duduk bersandar di sofa, menonton serial yang sama sejak pagi. “Belum dapat panggilan kerja,” katanya singkat, seperti kemarin dan kemarin lusa. Damar mengangguk, menyimpan lelahnya, menyimpan kecewanya. Di dalam kepalanya, pertanyaan-pertanyaan yang mulai ia tekan sejak lama kembali menyelinap.

Setiap malam, sebelum tidur, Damar menghitung tabungannya. Ia menuliskan angkanya di buku kecil yang sudah mulai lecek. Di halaman terakhir, ia menggambar sketsa rumah impian mereka, kamar anak-anak, bahkan taman kecil di belakang. Tapi yang tak pernah tergambar di situ adalah Rengganis yang sedang bekerja, berkeringat, atau berjuang bersamanya. Dalam sketsanya, Rengganis hanya ada — duduk di beranda, tersenyum.

“Kadang aku mikir, aku frugal living ini buat siapa, ya?” gumam Damar suatu malam. Ia tak berkata pada siapa pun, hanya pada langit-langit kamarnya yang diam. Cinta, katanya dulu. Tapi cinta rasanya butuh dua orang yang sama-sama berjalan. Sekarang, Damar merasa seperti sedang menarik beban, bukan menggandeng pasangan.

Semakin hari, berat itu bertambah. Ia menahan lapar, menunda keinginan, mengabaikan kebutuhan — semua demi hari esok yang katanya indah. Tapi hari ini, ia mulai sadar, ia berjalan sendiri. Rengganis tak tertinggal, ia hanya tidak berniat melangkah. Dan Damar mulai bertanya, bukan pada Rengganis, tapi pada dirinya sendiri: apakah masa depan yang ia kejar masih masa depan mereka?

Pagi itu, Damar kembali meminum kopi kadaluarsa. Tapi kali ini, ia meminumnya perlahan, menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Ia belum tahu jawabannya. Tapi untuk pertama kalinya, ia bertanya tanpa takut: kalau aku terus hidup hemat demi cinta, tapi cintanya tidak tumbuh, masih pantaskah aku bertahan? Hidup hemat bukan berarti hidup setengah-setengah. Tapi untuk hidup siapa, harusnya jelas. Dan hari itu, Damar mulai berpikir, mungkin sudah saatnya menabung bukan untuk hidup bersama, tapi untuk hidup yang layak — untuk dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...

Searah dalam Waktu yang Tak Pernah Sama

Dalam hidup ini, kita tidak bisa memilih datang lebih dulu atau belakangan. Kita hadir dengan tahun yang berbeda, cara tumbuh yang tak serupa, dan luka-luka yang tak bisa dibandingkan. Tapi dari sekian banyak perbedaan, kita bertemu—di waktu yang mungkin tak ideal, tapi hati kita berusaha menyesuaikan irama. Bukan soal angka yang memisahkan kita. Karena cinta tak pernah mengenal batas usia. Ia hanya tahu bagaimana cara hati saling merangkul, tanpa memaksa. Karena kedewasaan tak selalu datang dari waktu yang panjang, tapi dari seberapa dalam seseorang memahami arti hadir untuk sekitar. Kita tidak butuh yang selalu sepaham, tapi kita butuh seseorang yang mau mengusahakan arah yang sama. Kita tidak harus selalu setuju, tapi kita bisa tetap sejalan. Dan saat dunia mencoba memisahkan kita lewat perbedaan yang terlihat, mari ingat: rasa yang nyata tak pernah tumbuh dari keseragaman, tapi dari penerimaan. Seumur hidup itu lama. Terlalu lama jika dijalani dengan orang yang tak benar-benar meli...