Langsung ke konten utama

Rana: Tak Sempat Menjadi Kita

Namanya Damar. Kehadirannya selalu jadi terang di hidup Rana—perempuan berwajah ceria yang sejak awal membuat Damar yakin untuk menetap. Damar bukan tipe lelaki yang buru-buru jatuh hati, tapi sekali ia jatuh, laksana strategi permainan catur, semua langkah sudah terkoordinir dengan pasti. Ia susun satu per satu; rencana pernikahan, tempat tinggal, bahkan jenis pekerjaan yang bisa Rana pilih jika suatu saat ingin berhenti dari dunia kantoran yang selama ini ia keluhkan. Semua ia buat rapi, seolah tak ingin ada celah yang membuat Rana ragu. Tapi nyatanya, ragu datang bukan karena tidak ada celah, melainkan karena hati yang tak lagi sama.

Rana—sebuah nama yang menyimpan kontras manis dan getir, ceria di luar namun rapuh di dalam—dulu gemar membalas pesan Damar dengan antusias. Mereka bisa bicara berjam-jam tentang masa depan tanpa kehabisan topik. Hal-hal remeh, lucu, sampai serius seperti pendidikan dan prinsip hidup. Tapi kini, balasan Rana kian singkat. Kadang hanya "nanti ya" atau "capek banget hari ini." Padahal Damar selalu menunggu sampai Rana selesai kerja, supaya tak ganggu waktu produktifnya. Tapi Rana tetap merasa terganggu. Bukan karena waktunya, tapi karena rasanya.

Damar tidak bodoh. Ia tahu bedanya komunikasi yang terganggu karena sibuk, dengan komunikasi yang berubah karena perasaan. Ia coba bertahan, memberi ruang, bahkan diam untuk waktu lama, berharap Rana kembali seperti dulu. Tapi hatinya tahu: yang hilang bukan percakapan, melainkan getaran. Yang padam bukan koneksi internet, tapi koneksi rasa. Meski begitu, Damar tetap menyimpan semua yang telah ia siapkan—undangan, konsep pelaminan, bahkan tulisan tangan berisi doa-doa untuk mereka berdua.

Di sisi lain, Rana juga sering termenung. Bukan karena tak menghargai Damar, tapi karena hidup memaksanya jadi seseorang yang harus terus berjalan. Setiap bulan, sebagian rezekinya melayang ke kampung. Rana hidup dalam dua dunia: satu yang ingin ia bangun bersama Damar, dan satu lagi yang harus ia topang seorang diri. Dan dalam diam, ia sadar: barangkali yang membuatnya menjauh bukan Damar, tapi beban yang tak bisa lagi ia bagi.

Hubungan mereka jadi teka-teki yang tak selesai. Kadang terlalu banyak cinta, tapi tak cukup waktu dan tempat untuk merawatnya. Damar mulai jarang hadir, bukan karena tak peduli, tapi karena tahu dirinya tak bisa memaksa Rana. Sementara Rana tetap menyimpan semua kenangan di sudut hati, sembari berpura-pura tegar dengan rutinitas yang menelannya tiap hari. Mereka masih saling mendoakan, tapi doa-doa itu kini tak lagi saling tahu.

Hujan di suatu sore membuat Damar kembali membuka galeri foto-foto lama. Ada tawa Rana di sana yang perlahan asing. Ia tersenyum tipis, lalu menutup layar. Ia tahu, cinta tak selalu harus memiliki. Kadang, cinta hanya tentang menjadi orang yang pernah mencoba sungguh-sungguh. Dan ia sudah mencoba. Lebih dari cukup.

Di tempat lain, Rana menatap layar ponselnya lama sekali. Ada nama Damar di atas sana, tak bergerak. Ia mengetik: "Apa kabar?" lalu menghapusnya. Bukan karena tak peduli, tapi karena tahu pertanyaan itu bisa membuka luka yang perlahan sembuh. Ia ingin bicara, tapi takut terlalu banyak ingin yang tak bisa ia penuhi. Maka ia simpan lagi ponselnya, dan kembali ke kerjaan yang tak ada habisnya.

Dan begitulah, dua orang yang dulu saling percaya kini berjalan di antara persimpangan pilihan, dengan doa yang masih sama tapi arah yang tak lagi searah. Mungkin, cinta mereka tak pernah benar-benar hilang—hanya saja tak sempat menjadi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Rengganis: Jika Itu Namamu

Rengganis selalu percaya bahwa cinta tak harus diucap, cukup ditunjukkan melalui perhatian kecil yang konsisten. Ia mencintai Damar dengan diam-diam yang riuh: lewat secangkir kopi yang selalu ia buatkan saat mereka belajar bersama, lewat catatan pengingat yang ia sisipkan di buku Damar, dan lewat senyum yang ia lempar setiap mata mereka tak sengaja bertemu. Tapi Damar tak pernah benar-benar menangkap sinyal-sinyal itu. Baginya, semua itu adalah bentuk keramahan biasa dari seorang sahabat. Di sisi lain, Damar menyimpan perasaan yang sama, hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih untuk selalu ada—menemani Rengganis pulang meski jalannya berlawanan, mengingatkan untuk makan saat deadline menumpuk, hingga diam-diam mencetak foto Rengganis saat wisuda dan menyimpannya dalam dompet pemberian Rengganis kala itu. Namun, Rengganis mengira Damar hanya laki-laki baik yang perhatian pada semua orang. Mereka saling mencintai, tapi tak saling tahu. Hari demi hari berlalu,...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...