Namanya Damar. Kehadirannya selalu jadi terang di hidup Rana—perempuan berwajah ceria yang sejak awal membuat Damar yakin untuk menetap. Damar bukan tipe lelaki yang buru-buru jatuh hati, tapi sekali ia jatuh, laksana strategi permainan catur, semua langkah sudah terkoordinir dengan pasti. Ia susun satu per satu; rencana pernikahan, tempat tinggal, bahkan jenis pekerjaan yang bisa Rana pilih jika suatu saat ingin berhenti dari dunia kantoran yang selama ini ia keluhkan. Semua ia buat rapi, seolah tak ingin ada celah yang membuat Rana ragu. Tapi nyatanya, ragu datang bukan karena tidak ada celah, melainkan karena hati yang tak lagi sama.
Rana—sebuah nama yang menyimpan kontras manis dan getir, ceria di luar namun rapuh di dalam—dulu gemar membalas pesan Damar dengan antusias. Mereka bisa bicara berjam-jam tentang masa depan tanpa kehabisan topik. Hal-hal remeh, lucu, sampai serius seperti pendidikan dan prinsip hidup. Tapi kini, balasan Rana kian singkat. Kadang hanya "nanti ya" atau "capek banget hari ini." Padahal Damar selalu menunggu sampai Rana selesai kerja, supaya tak ganggu waktu produktifnya. Tapi Rana tetap merasa terganggu. Bukan karena waktunya, tapi karena rasanya.
Damar tidak bodoh. Ia tahu bedanya komunikasi yang terganggu karena sibuk, dengan komunikasi yang berubah karena perasaan. Ia coba bertahan, memberi ruang, bahkan diam untuk waktu lama, berharap Rana kembali seperti dulu. Tapi hatinya tahu: yang hilang bukan percakapan, melainkan getaran. Yang padam bukan koneksi internet, tapi koneksi rasa. Meski begitu, Damar tetap menyimpan semua yang telah ia siapkan—undangan, konsep pelaminan, bahkan tulisan tangan berisi doa-doa untuk mereka berdua.
Di sisi lain, Rana juga sering termenung. Bukan karena tak menghargai Damar, tapi karena hidup memaksanya jadi seseorang yang harus terus berjalan. Setiap bulan, sebagian rezekinya melayang ke kampung. Rana hidup dalam dua dunia: satu yang ingin ia bangun bersama Damar, dan satu lagi yang harus ia topang seorang diri. Dan dalam diam, ia sadar: barangkali yang membuatnya menjauh bukan Damar, tapi beban yang tak bisa lagi ia bagi.
Hubungan mereka jadi teka-teki yang tak selesai. Kadang terlalu banyak cinta, tapi tak cukup waktu dan tempat untuk merawatnya. Damar mulai jarang hadir, bukan karena tak peduli, tapi karena tahu dirinya tak bisa memaksa Rana. Sementara Rana tetap menyimpan semua kenangan di sudut hati, sembari berpura-pura tegar dengan rutinitas yang menelannya tiap hari. Mereka masih saling mendoakan, tapi doa-doa itu kini tak lagi saling tahu.
Hujan di suatu sore membuat Damar kembali membuka galeri foto-foto lama. Ada tawa Rana di sana yang perlahan asing. Ia tersenyum tipis, lalu menutup layar. Ia tahu, cinta tak selalu harus memiliki. Kadang, cinta hanya tentang menjadi orang yang pernah mencoba sungguh-sungguh. Dan ia sudah mencoba. Lebih dari cukup.
Di tempat lain, Rana menatap layar ponselnya lama sekali. Ada nama Damar di atas sana, tak bergerak. Ia mengetik: "Apa kabar?" lalu menghapusnya. Bukan karena tak peduli, tapi karena tahu pertanyaan itu bisa membuka luka yang perlahan sembuh. Ia ingin bicara, tapi takut terlalu banyak ingin yang tak bisa ia penuhi. Maka ia simpan lagi ponselnya, dan kembali ke kerjaan yang tak ada habisnya.
Dan begitulah, dua orang yang dulu saling percaya kini berjalan di antara persimpangan pilihan, dengan doa yang masih sama tapi arah yang tak lagi searah. Mungkin, cinta mereka tak pernah benar-benar hilang—hanya saja tak sempat menjadi kita.
Komentar
Posting Komentar