Langsung ke konten utama

Rengganis: Jika Itu Namamu

Rengganis selalu percaya bahwa cinta tak harus diucap, cukup ditunjukkan melalui perhatian kecil yang konsisten. Ia mencintai Damar dengan diam-diam yang riuh: lewat secangkir kopi yang selalu ia buatkan saat mereka belajar bersama, lewat catatan pengingat yang ia sisipkan di buku Damar, dan lewat senyum yang ia lempar setiap mata mereka tak sengaja bertemu. Tapi Damar tak pernah benar-benar menangkap sinyal-sinyal itu. Baginya, semua itu adalah bentuk keramahan biasa dari seorang sahabat.

Di sisi lain, Damar menyimpan perasaan yang sama, hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih untuk selalu ada—menemani Rengganis pulang meski jalannya berlawanan, mengingatkan untuk makan saat deadline menumpuk, hingga diam-diam mencetak foto Rengganis saat wisuda dan menyimpannya dalam dompet pemberian Rengganis kala itu. Namun, Rengganis mengira Damar hanya laki-laki baik yang perhatian pada semua orang. Mereka saling mencintai, tapi tak saling tahu.

Hari demi hari berlalu, dan masing-masing mulai bertanya-tanya: apakah cinta itu harus selalu sepihak? Apakah rasa yang diam dan tak pernah dikonfirmasi pantas diperjuangkan? Damar pun mulai menarik diri perlahan, mencoba mengikis rasa yang ia pikir tak berbalas. Rengganis mundur selangkah, berpikir bahwa Damar tak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman.

Pada akhirnya, mereka duduk termenung di bangku alun-alun kota berlatar gedung-gedung pencakar langit yang pertama kali mereka kunjungi. Tak ada pengakuan, hanya senyum pahit dan tawa singkat berkontemplasi mengenang momen-momen lalu. Di antara diam dan angin sore yang berembus lembut, Damar berkata, “Mungkin kita terlalu banyak berharap tanpa bicara.” Rengganis hanya diam, menatap langit seolah berharap waktu bisa diulang, kali ini dengan keberanian yang tak sempat mereka miliki. 

Rasa beriring rindu tak henti mereka tak pernah hilang dalam ingatan, hanya lewat begitu saja—terjebak dalam isyarat Rengganis yang gagal dan tak pernah diterjemahkan oleh Damar. Damar berjalan menjauh, sementara Rengganis tetap duduk menanti, kemudian menyadari bahwa kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan, melainkan tak pernah benar-benar mencoba dalam setiap kesempatan. Dan begitulah mereka berpisah: bukan karena tak cinta, tapi karena terlalu diam dan menunggu dalam rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan yang Tak Lagi Sama

Langit Batujajar tak terlalu cerah siang itu. Awan-awan menggantung berat, seolah menahan hujan yang sebentar lagi jatuh. Damar duduk di barak latihan Kopassus, menyeka keringat dari pelipis setelah menyelesaikan rangkaian latihan militer hari ke-6. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru lebih lelah dari apapun. Lalu, ponselnya bergetar, tanda notifikasi pesan masuk dari orang asing, namun samar-samar ia mengenalnya. "Novi." Nama itu muncul dengan tenang di layar, seperti sebutir batu kecil yang dilemparkan ke danau lalu menciptakan riak yang cepat menjalar hingga ke dalam. Sosok yang pertama kali mewarnai tulisan blog ini bertahun-tahun yang lalu. Satu pesan pendek, yang terasa berat: "Halo Damar, lagi dimana? Pengen ketemu aja, tapi kamu free nya kapan?" Damar tidak langsung membalas. Ia mematung. Sudah berapa lama sejak terakhir mereka bicara? Lima tahun? Enam tahun? Terakhir mereka benar-benar duduk bersama adalah saat mereka kelas 12 SMA. Waktu itu, mereka memb...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...