Langsung ke konten utama

Rengganis: Dalam Mimpiku yang Terlalu Nyata

Malam tadi, ketika dunia terlelap dalam sunyi dan hujan turun pelan di luar jendela, Damar bertemu seseorang yang tak seharusnya ia kenal—namun namanya mengalir begitu lancar dari bibir Damar: Rengganis. Ia datang bukan seperti bayang-bayang samar yang biasa hadir dalam mimpi, tapi seperti seseorang yang telah lama tinggal dalam ingatan Damar. Entah kenapa, langkahnya begitu familiar, dan matanya... seolah menyimpan serpihan masa lalu yang tak pernah Damar ceritakan pada siapa pun.

Rengganis tersenyum, dan saat itu juga Damar ingat setiap pertemuan penuh makna yang selalu ia anggap paling sendu. Damar tahu ayah Rengganis selalu berangkat ke ladang setiap pagi, sedangkan ibunya punya kebiasaan menuliskan puisi di belakang nota belanja. Damar tahu hal-hal yang tak pernah Rengganis ketahui sebelumnya, dan itu membuatnya takut sekaligus ingin diam lebih lama bersamanya.

Di bawah langit kelabu yang seperti kain tua digantung di atas kepala kami, Rengganis berbicara pelan, tapi setiap katanya seperti gema dari tempat yang pernah Damar datangi. Ia tak heran aku tahu banyak tentangnya. Katanya, mungkin kita pernah saling menunggu di kehidupan yang tak sempat selesai, atau mungkin semesta sedang bermain-main dengan rasa yang belum sempat tumbuh di dunia nyata.

Ada detik ketika ia menyentuh lengan Damar, dan Damar merasa seperti pulang. Padahal Damar tak ingat pernah pergi sejauh itu. Wajahnya tak asing, suaranya tak baru, dan hadirnya seperti lembaran buku yang pernah Damar baca ribuan kali tapi tak pernah bosan dibaca ulang. Di matanya, Damar melihat versi diri Rengganis yang lebih tenang, lebih mengerti, dan lebih damai.

Kami duduk berdua di tepi waktu yang terasa seperti milik kami sendiri. Tak ada hari, tak ada detik, hanya napas dan jarak yang tak lagi berarti. Ia tak bertanya kenapa Damar tahu namanya, dan Damar tak bertanya kenapa ia bisa datang ke dalam tidurnya malam itu. Kami tahu, beberapa hal memang tak butuh penjelasan. Ia ada, Damar pun begitu.

Saat Damar terbangun, jantungnya berdebar tak karuan. Masih terasa hangat sisa percakapan yang tak sempat diakhiri, dan bayangan wajahnya seperti tertinggal di antara garis-garis cahaya pagi yang menyelinap masuk ke kamar. Damar menatap langit-langit, berharap bisa tertidur kembali, hanya untuk bertemu sekali lagi dengannya. Tapi Damar tahu, mimpi tak bisa diulang begitu saja.

Rengganis... sebuah nama yang kini tak lagi hanya rangkaian huruf asing, tapi nyanyian lirih yang hanya terdengar saat malam benar-benar sepi. Damar tak tahu siapa dia di dunia nyata, atau apakah ia benar-benar ada. Tapi malam itu, dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia menjadi rumah bagi Damar yang bahkan lupa sedang mencari tempat pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Frugal Living Ala Gen Z: Hidup untuk Hidup Siapa?

Setiap pagi, Damar memulai harinya dengan selembar roti tawar dan secangkir kopi sachet yang sudah kadaluarsa seminggu lalu. Ia tertawa kecil melihat tanggalnya, lalu berbisik pelan. “Masih bisa diminum,” katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hidup hemat, katanya. Hidup frugal. Bukan pelit, tapi sadar prioritas. Dan prioritas Damar adalah masa depan, rumah mungil yang nyaman, dan hidup sederhana bersama orang yang ia cintai. Di kantor, Damar menolak ajakan makan siang di luar. Ia membuka bekal nasi dan telur dadar yang sudah disiapkan sejak malam. Teman-temannya menyindir, “Kapan kamu berhenti nabung dan mulai hidup?” Tapi Damar hanya tersenyum. Mereka tak tahu, setiap rupiah yang ia hemat adalah batu bata untuk membangun mimpi hidup bersama Rengganis — seseorang yang katanya ingin menua bersamanya. Namun, ketika ia pulang, Rengganis masih di tempat yang sama. Duduk bersandar di sofa, menonton serial yang sama sejak pagi. “Belum dapat panggilan kerja,” katanya singkat, seperti k...

Menjadi Teman yang Tak Pernah Kita Temui

Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan. Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta. Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebai...