Langsung ke konten utama

Perpisahan yang Terlambat Ditangisi

Perpisahan angkatan adalah musim yang selalu datang, hadir setia setiap tahun bersama lagu-lagu lama yang entah sudah diputar untuk angkatan ke berapa. Semuanya terasa serupa—tangis, tabligh muwadaah, lilin, dan bucket bunga warna-warni. Tapi tahun ini berbeda. Lagu-lagu itu tak lagi terdengar klise, malah menyesakkan dada. Bukan karena nadanya, tapi karena kenangan yang diam-diam melekat dalam diam dan tumbuh tanpa disuruh.


Empat tahun lalu, aku pergi meninggalkan tanah perjuangan ini untuk mengejar mimpi yang lebih tinggi di Timur. Aku pikir jarak membuatku asing dari segalanya. Tapi siapa sangka, lewat layar yang redup dan suara yang kadang terputus, aku mulai mengenal mereka—angkatan yang malam ini, besok, atau lusa berdiri di panggung perpisahan itu. Mereka bukan sekadar adik kelas; mereka adalah benih-benih harapan yang kutanam dalam lomba, diskusi malam, dan strategi ujian masuk perguruan tinggi.


Tak pernah terbayang, perkenalan virtual itu akan berakhir dengan rasa kehilangan nyata. Di balik layar aku melihat mereka tumbuh, belajar, dan menang. Mereka percaya pada bimbingan seorang kakak yang tak pernah hadir fisik, tapi selalu menepati janji di tiap jadwal latihan. Saat malam perpisahan ini tiba, aku menatap mereka dengan diam. Aku baru sadar, aku telah jatuh cinta pada proses yang tak pernah direncanakan.


Malam ini bukan sekadar renungan menyambut perpisahan pasca kelulusan. Ini adalah penanda bahwa satu-satunya angkatan yang masih membuatku merasa "pulang", kini telah pergi. Mereka yang membuat tanah perjuangan ini tetap hangat meski waktu sudah jauh tertinggal. Kini, lapangan itu ramai, tapi hatiku sepi. Lagu-lagu perpisahan tak lagi terdengar seperti repetisi—mereka menjelma nyanyian duka bagi seseorang yang kehilangan rumahnya untuk kedua kali, setelah kehilangan pertama terhalang pandemi.


Sungguh ironis, aku kembali justru untuk menyaksikan kepergian. Kembali, hanya untuk ditinggalkan. Di antara foto-foto perpisahan dan video kompilasi perjalanan mereka lusa nanti, aku duduk tanpa suara. Mungkin aku tidak sepenting itu dalam hidup mereka. Tapi mereka, tanpa sadar, telah menjadi bagian penting dalam kepulanganku yang semu.


Mulai besok, tak ada lagi adik kelas yang akan memanggil namaku karena mengenal. Semua berubah menjadi wajah-wajah baru, nama-nama baru, dan semangat yang tak lagi punya keterikatan dengan kenangan masa lalu. Tempat ini kembali asing, dan aku kembali mengasingkan diri.


Perpisahan ini tidak dramatis. Tak ada pelukan, air mata, atau kata-kata manis yang ditunggu. Tapi justru karena itu, ia menyakitkan. Karena yang paling dalam adalah yang tak pernah diucapkan. Karena yang paling tulus adalah yang tak sempat disadari. Dan yang paling menyedihkan, adalah kehilangan yang datang ketika kita baru belajar mencintai lagi.


Mungkin beginilah cara hidup mengajarkan kita tentang keterlambatan. Bahwa tidak semua cinta datang tepat waktu. Dan tidak semua perpisahan punya cukup ruang untuk suatu saat nanti mengatur temu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Rengganis: Jika Itu Namamu

Rengganis selalu percaya bahwa cinta tak harus diucap, cukup ditunjukkan melalui perhatian kecil yang konsisten. Ia mencintai Damar dengan diam-diam yang riuh: lewat secangkir kopi yang selalu ia buatkan saat mereka belajar bersama, lewat catatan pengingat yang ia sisipkan di buku Damar, dan lewat senyum yang ia lempar setiap mata mereka tak sengaja bertemu. Tapi Damar tak pernah benar-benar menangkap sinyal-sinyal itu. Baginya, semua itu adalah bentuk keramahan biasa dari seorang sahabat. Di sisi lain, Damar menyimpan perasaan yang sama, hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih untuk selalu ada—menemani Rengganis pulang meski jalannya berlawanan, mengingatkan untuk makan saat deadline menumpuk, hingga diam-diam mencetak foto Rengganis saat wisuda dan menyimpannya dalam dompet pemberian Rengganis kala itu. Namun, Rengganis mengira Damar hanya laki-laki baik yang perhatian pada semua orang. Mereka saling mencintai, tapi tak saling tahu. Hari demi hari berlalu,...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...