Langsung ke konten utama

Mengapa Tidak Bersama Menyapu Debu?

Untukmu, Tamu yang Berdiri di Ambang Pintu,


Aku tahu kau telah lama mengetuk. Langkahmu tak pernah benar-benar menjauh, walau pintu ini tak kunjung terbuka. Kau orang asing yang menunggu dengan sabar, mengira mungkin esok pagi rumah ini akan lebih pantas untuk menerimamu.


Kau bilang, "Bersihkan dulu kekacauan di dalam. Rapikan semuanya. Barulah aku akan masuk."


Tapi, tidakkah kau lihat—tanganku gemetar memegang sapu, punggungku letih menahan beban kenangan yang berserakan di lantai? Dinding-dinding ini memantulkan suara ragu dan jendela-jendela memantulkan bayangan luka yang belum sempat dilap. Rumah ini, hatiku, berantakan… tapi tidak berarti aku ingin membersihkannya sendirian.


Tamu yang baik,

Apakah tak terpikir olehmu, bahwa sedikit bantuanmu bisa jadi awal dari kerapihan itu? Bahwa mungkin yang kubutuhkan bukan waktu, tapi sikap yang tak hanya menunggu, tapi ikut membantu?


Mengapa kau memilih berdiri di luar, berharap keajaiban terjadi dari dalam? Bukankah kasih sejati justru hadir saat kita berdua menggulung lengan, menyapu luka, dan menata kembali yang patah itu bersama?


Bukan rumah sempurna yang kubutuhkan untuk mencintaimu. Tapi cinta yang bersedia berteduh meski atap masih bocor.


Jika kau sungguh ingin masuk, jangan tunggu rumah ini sempurna.

Masuklah, dan mari kita bersihkan bersama.


Dengan harap,

Pemilik Rumah yang Tak Lagi Sanggup Menata Sendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Rengganis: Jika Itu Namamu

Rengganis selalu percaya bahwa cinta tak harus diucap, cukup ditunjukkan melalui perhatian kecil yang konsisten. Ia mencintai Damar dengan diam-diam yang riuh: lewat secangkir kopi yang selalu ia buatkan saat mereka belajar bersama, lewat catatan pengingat yang ia sisipkan di buku Damar, dan lewat senyum yang ia lempar setiap mata mereka tak sengaja bertemu. Tapi Damar tak pernah benar-benar menangkap sinyal-sinyal itu. Baginya, semua itu adalah bentuk keramahan biasa dari seorang sahabat. Di sisi lain, Damar menyimpan perasaan yang sama, hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih untuk selalu ada—menemani Rengganis pulang meski jalannya berlawanan, mengingatkan untuk makan saat deadline menumpuk, hingga diam-diam mencetak foto Rengganis saat wisuda dan menyimpannya dalam dompet pemberian Rengganis kala itu. Namun, Rengganis mengira Damar hanya laki-laki baik yang perhatian pada semua orang. Mereka saling mencintai, tapi tak saling tahu. Hari demi hari berlalu,...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...