Untukmu, Tamu yang Berdiri di Ambang Pintu,
Aku tahu kau telah lama mengetuk. Langkahmu tak pernah benar-benar menjauh, walau pintu ini tak kunjung terbuka. Kau orang asing yang menunggu dengan sabar, mengira mungkin esok pagi rumah ini akan lebih pantas untuk menerimamu.
Kau bilang, "Bersihkan dulu kekacauan di dalam. Rapikan semuanya. Barulah aku akan masuk."
Tapi, tidakkah kau lihat—tanganku gemetar memegang sapu, punggungku letih menahan beban kenangan yang berserakan di lantai? Dinding-dinding ini memantulkan suara ragu dan jendela-jendela memantulkan bayangan luka yang belum sempat dilap. Rumah ini, hatiku, berantakan… tapi tidak berarti aku ingin membersihkannya sendirian.
Tamu yang baik,
Apakah tak terpikir olehmu, bahwa sedikit bantuanmu bisa jadi awal dari kerapihan itu? Bahwa mungkin yang kubutuhkan bukan waktu, tapi sikap yang tak hanya menunggu, tapi ikut membantu?
Mengapa kau memilih berdiri di luar, berharap keajaiban terjadi dari dalam? Bukankah kasih sejati justru hadir saat kita berdua menggulung lengan, menyapu luka, dan menata kembali yang patah itu bersama?
Bukan rumah sempurna yang kubutuhkan untuk mencintaimu. Tapi cinta yang bersedia berteduh meski atap masih bocor.
Jika kau sungguh ingin masuk, jangan tunggu rumah ini sempurna.
Masuklah, dan mari kita bersihkan bersama.
Dengan harap,
Pemilik Rumah yang Tak Lagi Sanggup Menata Sendiri
Komentar
Posting Komentar