Langsung ke konten utama

Perencanaan Karir: Kutagih 2024 Nanti

Memiliki perencanaan karir yang matang sejak dini merupakan hal yang penting untuk setiap orang. Sebab, lebih mudah mengukur target dan membuat langkah-langkah yang dapat membantu dalam mencapai karir tersebut (Irfan, 2021). Adapun pada pembahasan perencanaan karir ini, saya menggunakan metode SMART Goals. SMART Goals merupakan akronim dari Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound. Berikut perencanaan karir saya.

Goal Setting

Pada tahap ini, saya menggunakan SMART Goals bagian Specific dan Measurable. Dimana Goal Setting akan diarahkan kepada pencapaian secara spesifik dan alasan yang mendasarinya. Berikut Goal Setting saya.

“Kelak, aku akan berkeliling dunia, berpenghasilan dolar, dan bekerja di perusahaan berskala multinasional.”

Saya masih ingat ketika menulis Goal Setting spesifik di atas. Saat itu, tepat bulan April 2018 saat saya kelas 10 di MAN 1 Tasikmalaya. Saya menjadi finalis Lomba Esai Nasional mengenai Revolusi Industri 4.0 di Universitas Andalas Padang Sumatera Barat. Disela-sela presentasi, panitia mengajak finalis untuk city tour sekitar Padang, mulai dari tempat wisata hingga kunjungan perusahaan nasional-multinasional.

Tepat di Pantai Purus, terdapat Tugu Iora. Sebuah tugu yang merepresentasikan nama negara beserta bendera, arah, dan jaraknya dari tugu tersebut. Saya pun berfoto di Tugu Iora sambil menuliskan harapan sederhana saya, “Kelak, aku akan berkeliling dunia, berpenghasilan dolar dan bekerja di perusahaan berskala multinasional.”

Persiapan dan Tantangan

Pada tahap ini, saya menggunakan Achievable. Dimana nantinya diarahkan bagaimana mencapai Goal Setting dan menyikapi tantangan mewujudkannya.

Berikut cara saya untuk mencapai Goal Setting dan menyikapi tantangan mewujudkannya.

1.      Berkeliling dunia

Saya terinspirasi akan tulisan Prof. Rhenald Kasali. Ph.D. (2011). Menjadi refleksi untuk kita semua, tatkala membaca tulisan dari Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. mengenai tugas yang diberikan kepada mahasiswanya tentang membuka cakrawala dunia melalui kegiatan ke luar negeri, entah itu travelling, lomba, dan seminar. Dunia yang terbuka akan membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Kita bisa mendapatkan pengetahuan, teknologi, dan kedewasaan.

"Uang untuk beli tiket ke luar negerinya dari mana?" Saya katakan saya tidak tahu. Setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang dan ketika seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh batasan dan hampir pasti jawabannya adalah tidak ada uang, tidak mungkin, dan tidak bisa.

Kendati penduduk miskin di Indonesia masih banyak, hal yang sangat biasa kita temukan lulusan SD bolak-balik Jakarta-Arab Saudi, Malaysia, dan Hongkong. Siapa itu? TKI. Luar biasa bukan?

Pendapat ini selaras dengan saya pasca berfoto di Tugu Iota, pada Oktober 2018 saya berkesempatan mengikuti Comparative Study di 3 negara, Malaysia, Singapore, dan Thailand. Namun, saya mempunyai kendala keuangan terkait living cost selama mengikuti kegiatan tersebut. Sebagai seorang pemula, saya mencoba untuk menawarkan kerjasama ke berbagai UMKM hingga perusahaan.

H-1 keberangkatan, saya belum mempunyai pendanaan sponsor. Padahal panitia sudah cemas. Dengan tenang, saya mencoba meyakinkan saya akan berangkat. Saya pun berangkat ke bandara meski belum mendapat pendanaan. Saya berpikir, meski saya tidak berangkat, setidaknya saya dapat bertemu sesama delegasi. Kemudian tiba-tiba malam hari sebelum keberangkatan, tepat di bandara ada notif masuk.

Yup, hanya foto ini yang bisa menggambarkan betapa bahagianya saya. Sebuah kerjasama sponsorship yang membuat saya percaya bahwa pertolongan bisa datang kapan saja dan dari mana saja.

2.      Mengikuti kegiatan internasional

Setelah kegiatan Comparative Study di 3 negara, pada Januari 2019 kembali diamanahkan mengikuti International Symposium sebagai delegasi Indonesia di Istanbul Turki. Cerita delegasi di International Symposium hampir mirip dengan kegiatan Comparative Study di 3 negara Bedanya hanya nominal sponsorship saja yang lebih tinggi.

Berikutnya pada Februari 2020, saya kembali diamanahkan mengikuti International Symposium di Istanbul Turki. Bedanya, pada kesempatan ini saya berlaku sebagai ketua sponsorship delegasi Indonesia. Mengingat pada keikutsertaan saya tahun 2019, berhasil terkumpul dana sponsorship 35 juta. Hal ini pun sempat ramai dan menjadi topik perbincangan hangat yang kemudian dibukukan.

Adapun kendala yang dialami saat menjadi ketua sponsorship delegasi Indonesia adalah kesulitan menjelaskan tips and trick mendapatkan sponsorship kepada delegasi yang personal brandingnya minim, scam tiket palsu, hingga kerjasama dengan agen travel untuk mendapatkan harga tiket pesawat dan visa terbaik.


Saya pun mengikuti berbagai pelatihan public speaking hingga dapat menjelaskan tips and trick mendapatkan sponsorhip kepada delegasi Indonesia. Pada kegiatan ini, saya berhasil meraih penghasilan dolar pertama saya sebanyak US$14.000 atau sekitar 200 juta rupiah.

Saya yang menjadi delegasi ke luar negeri memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri saya bangkit. Sekembalinya dari luar negeri, saya membawa segudang pengalaman, cerita, dan foto yang membentuk visi saya. Seorang pemburu tiket, penginapan super murah, dan menggendong ransel butut yang kaya teori, mata tajam mengendus peluang, dan rasa percaya diri yang tinggi.

Keikutsertaan saya di kegiatan internasional membuktikan bahwa Indonesia memiliki SDM yang kompeten, respektif, dan adaptif. Keikutsertaan saya juga dapat memperkenalkan budaya Indonesia ke dalam forum internasional. Maka secara langsung, saya telah melakukan capacity improvement sebagai agent of change bagi Indonesia.

3.      Beasiswa Pendidikan

Beasiswa adalah hal mutlak meraih akses pendidikan seluas-luasnya. Seorang saya yang mempunyai tanda merah ketika pengumuman SNMPTN di perguruan tinggi negeri terbaik, membuat saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Alhasil, beberapa perlombaan dan seleksi masuk perguruan tinggi saya ikuti. Saya ingin menguji kemampuan karena kegagalan tersebut.

Beberapa minggu kemudian, saya mengikuti berbagai seleksi beasiswa. Soal demi soal dan interview demi interview saya ikuti. Alhasil, ada beberapa perguruan tinggi yang memampangkan nama saya sebagai penerima beasiswanya. Alhasil, saya mengambil Beasiswa Unggulan di Prodi Sistem Informasi Universitas Internasional Semen Indonesia. Padahal ada beberapa beasiswa ternama menjadi opsi. Katakanlah beasiswa Conoco Phillips kuliah kerja 5 tahun di Amerika Serikat, beasiswa Universitas Bakrie, hingga beasiswa Polman Astra.

4.      Magang atau bekerja di perusahaan multinasional

Magang merupakan pengalaman terbaik mempersiapkan dunia kerja, terlebih targetnya adalah bekerja di perusahaan multinasional. Hal ini dapat dipersiapkan dengan berkuliah di kampus internasional, salah satunya di Universitas Internasional Semen Indonesia. Sebagai mahasiswa semester 3, perlu persiapan yang matang jika semester 5 nanti akan melakukan magang di perusahaan. Perlu riset yang optimal, meningkatkan personal branding, hingga meningkatkan CV. Namun, hal ini belum terwujud dan masih dalam tahap persiapan.

Implementasi

Pada tahap ini, saya menggunakan Relevant dan Time-bound. Dimana nantinya diarahkan apakah cara untuk mencapai Goal Setting sudah sesuai dan menentukan deadline targetnya. Saya pun bisa beradaptasi untuk mengimplementasikan perencanaan karir, baik sebagai Sociopreneurship, Teknopreneurship, maupun Intrapreneurship.

1.      Sociopreneurship

Sociopreneurship merupakan skill kewirausahaan yang lebih mengedepankan sisi sosial. Pada April 2018 sesaat berfoto di Tugu Iota, saya membuat master plan untuk mengikuti berbagai kegiatan volunteer maupun Corporate Social Responsibility. Setidaknya 5 tahun ke depan sejak April 2018, harus terealisasi. Hal ini dapat diketahui ketika mengimplementasikan sociopreneurship dengan mengikuti kegiatan volunteer hingga Corporate Social Responsibility sebagai berikut.

a.       Volunteer Parlemen Remaja DPR RI

Sebagai seseorang yang mempunyai perencanaan karir yang tinggi, tentu keahlian dalam melakukan diplomasi, diskusi, hingga negosiasi sangat penting dikuasai. Oleh karena itu, saya mencoba memanfaatkan kegiatan volunteer ini mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat XI bersaing bersama ribuan pelamar pada September 2019.

b.      Corporate Social Responsibility PT. Paragon

Sebagai induk perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia, saya berhasil mengikuti kegiatan CSRnya pada Oktober 2019 di kegiatan Pemimpin.id 3 negara, Indonesia, Singapore, dan Malaysia. Saya pun berkesempatan mengikuti factory tour PT. Paragon di Tangerang.

c.       Corporate Social Responsibility PT. Primajasa Perdanaraya Utama

Sebagai perusahaan di bidang transportasi bus, saya berhasil mengikuti program Corporate Social Responsibility PT. Primajasa Perdanaraya Utama pada Desember 2020. Program CSR ini diadakan setiap tahun yang berkonsentrasi di Jawa Barat-DKI Jakarta-Banten.

2.      Teknopreneurship

Teknopreneurship merupakan sebuah skill kewirausahaan yang lebih mengedepankan sisi teknologi. Pada April 2018 sesaat berfoto di Tugu Iota, saya membuat master plan untuk merintis usaha di bidang teknologi. Setidaknya 5 tahun ke depan sejak April 2018, harus terealisasi. Hal ini dapat diketahui ketika mengimplementasikan teknopreneurship sebagai berikut.

a.      Brilink Payment Center

Sebagai seorang pemuda, tentu kendala dana menjadi masalah sangat serius. Namun, ada hal unik mewujudkan teknopreneurship ini. Ketika saya terpilih menjadi ketua sponsorship delegasi Indonesia pada Februari 2020, saya terkendala perizinan sekolah. Mengingat pada saat itu sedang mempersiapkan Ujian Nasional kelas 12. Tapi, mengingat ada pendapatan US$ 14.000, saya lebih memilih mengikuti kegiatan tersebut dibanding Ujian Nasional.

Sepulangnya dari kegiatan internasional, saya memanfaatkan uang tersebut untuk membuka Brilink Payment Center. Awal berdirinya, hampir 1 bulan sepi peminat. Tapi, beberapa bulan kemudian COVID-19 sampai Indonesia, dan omzet meningkat signifikan. 2 tahun berlalu, usaha Brilink Payment Center sudah mempunyai 5 cabang yang berkonsentrasi di beberapa pesantren di Tasikmalaya.

b.      DikitaAja Printing

Setelah usaha Brilink Payment Center aman, saya memperluas usaha saya dengan membuka DikitaAja Printing pada Oktober 2020 di beberapa pesantren di Tasikmalaya. Hal ini berdasarkan riset pasar yang mempunyai peluang pangsa pasar tinggi di ranah pesantren di tengah COVID-19.


3.      Intrapreneurship

Intrapreneurship merupakan sebuah skill kewirausahaan yang lebih mengedepankan sisi skill di perusahaan. Pada April 2018 sesaat berfoto di Tugu Iota, saya membuat master plan untuk memanfaatkan kemampuan bekerja di perusahaan. Setidaknya 5 tahun ke depan sejak April 2018, harus terealisasi magang. Hal ini dapat diketahui ketika mengimplementasikan intrapreneurship sebagai berikut.

a.       Magang di Perpustakaan MAN 1 Tasikmalaya

Untuk dapat bekerja di perusahaan multinasional, tentu perlu pengalaman yang cukup. Hal ini dapat diketahui ketika saya mengikuti magang di Perpustakaan MAN 1 Tasikmalaya pada Oktober 2020-Oktober 2021 sebelum pada Desember 2021 kemarin saya kost di Gresik.

Magangnya pun berfokus untuk meningkatkan peran inovasi teknologinya. Sebagai seorang mahasiswa jurusan Sistem Informasi, tentu mengimplementasikan aplikasi perpustakaan digital menjadi tantangan untuk dapat diimplementasikan di perpustakaan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Rengganis: Jika Itu Namamu

Rengganis selalu percaya bahwa cinta tak harus diucap, cukup ditunjukkan melalui perhatian kecil yang konsisten. Ia mencintai Damar dengan diam-diam yang riuh: lewat secangkir kopi yang selalu ia buatkan saat mereka belajar bersama, lewat catatan pengingat yang ia sisipkan di buku Damar, dan lewat senyum yang ia lempar setiap mata mereka tak sengaja bertemu. Tapi Damar tak pernah benar-benar menangkap sinyal-sinyal itu. Baginya, semua itu adalah bentuk keramahan biasa dari seorang sahabat. Di sisi lain, Damar menyimpan perasaan yang sama, hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih untuk selalu ada—menemani Rengganis pulang meski jalannya berlawanan, mengingatkan untuk makan saat deadline menumpuk, hingga diam-diam mencetak foto Rengganis saat wisuda dan menyimpannya dalam dompet pemberian Rengganis kala itu. Namun, Rengganis mengira Damar hanya laki-laki baik yang perhatian pada semua orang. Mereka saling mencintai, tapi tak saling tahu. Hari demi hari berlalu,...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...