Langsung ke konten utama

Postingan

Penerapan Tri Kerukunan Umat Beragama di Palembang

Tri Kerukunan Umat Beragama merupakan konsep yang digaungkan pemerintah Indonesia sebagai upaya menciptakan kerukunan masyarakat antar umat beragama. Konsep Tri Kerukunan Umat Beragama ini bertujuan agar masyarakat Indonesia dapat saling menerima kebhinekaan dalam kebersamaan, sekali pun banyak perbedaan. Hal ini berdasarkan kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam etnis, budaya, suku, dan agama. Dipungkiri atau tidak, beberapa tahun terakhir disparitas atau kesenjangan terkait kerukunan antar umat beragama sangatlah renggang yang berisiko menimbulkan konflik yang lebih parah lagi jika tidak segera diatasi. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia membuat konsep Tri Kerukunan Umat Beragama yang mencakup empat pokok masalah sebagai berikut. 1.       Pendirian Rumah Ibadah 2.      Penyiaran Agama 3.      Bantuan Keagamaan dari Luar Negeri 4.      Tenaga Asing Bidang Keagamaan Selain ...

Kebhinekaan Modul Nusantara: Kampung Kapitan

Pada 19 November 2022, kami dari kelompok 6 Modul Nusantara Universitas Sriwijaya melakukan kunjungan kebhinekaan ke Kampung Kapitan. Kampung Kapitan sendiri berlokasi di Kelurahan 7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang Sumatera Selatan. Kami berangkat dari Asrama Mahasiswa Universitas Sriwijaya yang berlokasi di Indralaya menggunakan bis menuju ke daerah Seberang Ulu kemudian ke arah Pasar Klinik dan Kampung Kapitan tepat ada di sebelah kiri. Berbicara mengenai Kampung Kapitan, tentu erat kaitannya dengan etnis Tionghoa yang merantau dan bermukin di pinggiran Sungai Musi Palembang. Daerah ini disebut Kampung Kapitan diambil dari kata Kapitan yang berarti kapten. Hal ini disebabkan dulunya terdapat seorang dari etnis Tionghoa bernama Tjoa Ham Hin yang diberi mandat oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengelola daerah ini khususnya di bidang administrasi. Kini, Kampung Kapitan menjadi destinasi wisata bersejarah di Pale...

Kebhinekaan Modul Nusantara: Review Pempek Edy di Kampung Pempek 26 Ilir

Kali ini, aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku menikmati Pempek Edy pada serangkaian kegiatan Modul Nusantara. Modul Nusantara sendiri merupakan mata kuliah khusus yang terdapat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang diinisiasi oleh Kemdikbudristek. Terdapat 4 jenis kegiatan Modul Nusantara, yaitu kebhinekaan, refleksi, inspirasi, dan kontribusi sosial. Nantinya, setiap mahasiswa akan tergabung dalam beberapa kelompok Modul Nusantara untuk memudahkan mobilisasi ke tempat lokasi pelaksanaannya. Aku sendiri mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Sriwijaya Prov. Sumatera Selatan. Tergabung ke dalam kelompok 6 Modul Nusantara bersama 18 orang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun dosen pengampu kami bernama Pak Oemar Madri Bafadhal, S.I.Kom., M.Si. dan kakak LO bernama Joistine Anastasya Duta Fardianne dari program studi Ilmu Komunikasi FISIP Univ. Sriwijaya. Pada tanggal 29 Oktober 2022, kami mengikuti kegiatan kebhinekaan ke Muse...

Perencanaan Karir: Kutagih 2024 Nanti

Memiliki perencanaan karir yang matang sejak dini merupakan hal yang penting untuk setiap orang. Sebab, lebih mudah mengukur target dan membuat langkah-langkah yang dapat membantu dalam mencapai karir tersebut (Irfan, 2021) . Adapun pada pembahasan perencanaan karir ini, saya menggunakan metode SMART Goals . SMART Goals merupakan akronim dari Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound . Berikut perencanaan karir saya. Goal Setting Pada tahap ini, saya menggunakan SMART Goals bagian Specific dan Measurable . Dimana Goal Setting akan diarahkan kepada pencapaian secara spesifik dan alasan yang mendasarinya. Berikut Goal Setting saya. “Kelak, aku akan berkeliling dunia, berpenghasilan dolar, dan bekerja di perusahaan berskala multinasional.” Saya masih ingat ketika menulis Goal Setting spesifik di atas. Saat itu, tepat bulan April 2018 saat saya kelas 10 di MAN 1 Tasikmalaya. Saya menjadi finalis Lomba Esai Nasional mengenai Revolusi Industri 4.0 di Universitas A...

Percakapan Pendidikan Karakter antara Guru dan Murid

Seorang ibu adalah pendidik pertama dan terutama anak. Bagaimana mungkin anaknya bisa terdidik, jika ibunya tidak terdidik? RA Kartini 1902 Setiap Malam Jumat, di daerah saya rutin mengadakan pengajian mingguan yang bertempat di sebuah Masjid. Malam Jumat kemari, saya mendapat pengalaman yang sangat luar biasa. Dimana penceramahnya berasal dari pimpinan sebuah pondok pesantren di daerah saya. Masyarakat pun duduk berjejer rapi sambil mendengarkan dengan khusyu apa yang disampaikan penceramah tersebut, tak terkecuali dengan saya. Saya mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan penceramah sambil sesekali mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Karena sebelumnya saya pernah belajar di sebuah pondok pesantren. Tepat di samping saya, terdapat seorang pemuda pengurus masjid tersebut. Beliau aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti ceramah, khotbah, pengajian ibu-ibu, dan lain sebagainya. Pemuda tersebut merupakan seorang santri lulusan pondok pesantren milik sang penceramah....