Langsung ke konten utama

Postingan

Nina: Di Antara Pesan dan Petunjuk Langit

Malam tadi, Jumat, 18 Juli 2025, saat lampu kamar mulai redup dan sunyi memeluk dinding-dinding sempit tempat tinggal kamar kosnya, Damar menerima pesan dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali. Seorang perempuan bernama Rani—yang dulu sempat ia temui dalam program pertukaran mahasiswa di Universitas Sriwijaya Palembang, akhir tahun 2022. Hubungan antara Damar dan Rani kala itu tidak akrab, bahkan kesan pertama yang ia ingat hanyalah kegaduhan yang harus Damar damaikan di antara keributan Rani dan penghuni asrama lainnya. Kini, pesan itu hadir seperti petir di malam yang senyap: "Aku ingin menikah. Dengan kamu." Damar membaca pelan. Ragu dan heran saling berselisih dalam dadanya. Ia tidak ingin menyakiti, tetapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya. Maka ia jawab dengan ketegasan yang tetap mencoba menjaga hati:  "Kalau kamu mengajakku menikah cepat, aku bukan orangnya. Kalau kamu mengajakku menikah tepat, aku juga bukan orangnya." Tak lama bers...

Rumah yang Belum Siap Diketuk

Tak semua ketukan di pintu pantas dijawab. Kadang, suara dari luar terdengar ramah, lembut, penuh harap. Tapi siapa pun tahu, menyambut tamu dalam kondisi rumah yang berantakan bukan sekadar tidak sopan—itu melukai harga diri sendiri. Ada waktu di mana seseorang harus berpura-pura tak mendengar, hanya agar ia bisa membereskan reruntuhan di dalam dirinya sendiri. Rumah, sebagaimana hati, menyimpan begitu banyak cerita yang tak sempat dibereskan. Tumpukan kecewa di sudut ruangan, debu luka di lantai kenangan, dan jendela-jendela yang sudah lama tak dibersihkan dari bayangan masa lalu. Ketika seseorang tiba dan mengetuk, membawa kekaguman seperti bunga di tangan, seringkali itu terjadi di waktu yang salah. Mengundang seseorang masuk ketika belum siap hanya akan membuat keduanya tersesat. Si tamu mungkin berharap menemukan kenyamanan, tetapi yang ia temui adalah kekacauan. Dan si tuan rumah? Ia hanya merasa semakin malu karena telah memperlihatkan sisi dirinya yang belum sempat ia rawat. L...

Mengapa Tidak Bersama Menyapu Debu?

Untukmu, Tamu yang Berdiri di Ambang Pintu, Aku tahu kau telah lama mengetuk. Langkahmu tak pernah benar-benar menjauh, walau pintu ini tak kunjung terbuka. Kau orang asing yang menunggu dengan sabar, mengira mungkin esok pagi rumah ini akan lebih pantas untuk menerimamu. Kau bilang, "Bersihkan dulu kekacauan di dalam. Rapikan semuanya. Barulah aku akan masuk." Tapi, tidakkah kau lihat—tanganku gemetar memegang sapu, punggungku letih menahan beban kenangan yang berserakan di lantai? Dinding-dinding ini memantulkan suara ragu dan jendela-jendela memantulkan bayangan luka yang belum sempat dilap. Rumah ini, hatiku, berantakan… tapi tidak berarti aku ingin membersihkannya sendirian. Tamu yang baik, Apakah tak terpikir olehmu, bahwa sedikit bantuanmu bisa jadi awal dari kerapihan itu? Bahwa mungkin yang kubutuhkan bukan waktu, tapi sikap yang tak hanya menunggu, tapi ikut membantu? Mengapa kau memilih berdiri di luar, berharap keajaiban terjadi dari dalam? Bukankah kasih sejati j...

Perpisahan yang Terlambat Ditangisi

Perpisahan angkatan adalah musim yang selalu datang, hadir setia setiap tahun bersama lagu-lagu lama yang entah sudah diputar untuk angkatan ke berapa. Semuanya terasa serupa—tangis, tabligh muwadaah, lilin, dan bucket bunga warna-warni. Tapi tahun ini berbeda. Lagu-lagu itu tak lagi terdengar klise, malah menyesakkan dada. Bukan karena nadanya, tapi karena kenangan yang diam-diam melekat dalam diam dan tumbuh tanpa disuruh. Empat tahun lalu, aku pergi meninggalkan tanah perjuangan ini untuk mengejar mimpi yang lebih tinggi di Timur. Aku pikir jarak membuatku asing dari segalanya. Tapi siapa sangka, lewat layar yang redup dan suara yang kadang terputus, aku mulai mengenal mereka—angkatan yang malam ini, besok, atau lusa berdiri di panggung perpisahan itu. Mereka bukan sekadar adik kelas; mereka adalah benih-benih harapan yang kutanam dalam lomba, diskusi malam, dan strategi ujian masuk perguruan tinggi. Tak pernah terbayang, perkenalan virtual itu akan berakhir dengan rasa kehilangan n...

Menjadi Teman yang Tak Pernah Kita Temui

Kadang hidup berjalan sepi, seperti lorong panjang tanpa suara. Kita duduk dalam diam, menatap langit-langit malam yang tak memberi jawaban. Di saat-saat seperti itu, kita sadar bahwa tidak selalu ada seseorang yang duduk di sebelah kita, menggenggam tangan, atau sekadar mendengarkan napas kita yang berat. Kesepian datang tanpa undangan, dan sering kali ia menetap lebih lama dari yang kita harapkan. Kita mencari sosok yang mampu memahami, meski tanpa kata. Namun kenyataannya, tak semua orang diberi keberuntungan itu—pun kita. Tak ada yang datang, tak ada yang tinggal. Dunia terasa terlalu ramai tapi sekaligus sangat hampa. Mungkin, ini bukan karena kita tak dicintai, tapi karena tak semua orang tahu bagaimana cara menunjukkan cinta. Dari kekosongan itu, kita belajar arti hadir. Hadir bukan sekadar fisik, tapi juga hati. Jika tak ada yang hadir untuk kita, mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi sosok yang hadir bagi orang lain. Bukan untuk balas budi, bukan pula untuk pamer kebai...

Satu Ruang yang Perlahan Kosong

Kupikir aku sudah kuat. Kupikir aku sudah cukup dewasa untuk mengucapkan, “Pergilah, aku bangga padamu!” dengan penuh ketegaran. Kupikir aku bisa berdiri tegak, tersenyum, dan merayakan keberangkatan seseorang yang sangat kucintai tanpa air mata. Tapi ternyata tidak. Lidah ini kelu, bibir ini enggan berucap, seolah kata-kata tersangkut di tenggorokan yang dicekik oleh rasa kehilangan Mungkin karena terlalu lama aku terbiasa menjadi ibu saat ibu tak lagi ada untuk mengajarkan kelembutan, menjadi ayah ketika ayah memilih jalan yang menjauh dari kami, dan menjadi rumah ketika dunia terlalu sempit dan terlalu bising untuknya. Aku tumbuh dalam peran-peran yang tak kupilih, tapi kuterima dengan diam, karena cinta—kadang—tak butuh kesepakatan, hanya pengorbanan. Di sudut kamar yang sempit itu, suara resleting koper terdengar seperti bunyi lonceng terakhir yang menandakan akhir dari sebuah babak kehidupan. Bukan hanya suara mekanik dari benda logam yang digesek, tapi suara paling menyakitkan y...

Surat untuk Seseorang yang Tak Lagi Sama

Hai, Maaf kalau surat ini tiba-tiba. Aku hanya butuh tempat untuk menyuarakan apa yang terlalu lama kupendam, sesuatu yang tak bisa kutitip lewat obrolan kita yang kini makin singkat dan hambar. Aku tahu, mungkin kamu juga sadar, tapi kita berdua terlalu diam untuk mengakuinya. Dulu, kita punya siang yang hangat, diwarnai obrolan kecil yang membuat dunia terasa ringan. Sekarang, siangku sunyi. Ponselku tetap di genggaman, tapi bukan lagi untuk menunggumu. Aku sudah mulai tahu diri—bahwa kamu tak lagi menaruh hal yang sama dalam percakapan kita. Malam yang dulu kita isi bersama, kini hanya jadi pengingat betapa banyak yang berubah. Kamu lebih cepat tidur setelah seharian bekerja, katamu. Sedang aku lebih lama menunggu dan belajar menahan diri. Aku belajar memeluk sepi tanpa harus mengganggumu dengan kata-kata yang mungkin hanya akan membuatmu risih. Responnu pun perlahan kehilangan nyawanya. Aku berbicara, tapi kamu membaca pesannya pun seadanya. Sekarang, rasanya seperti aku bicara pad...